Angin Lalu

yang belum baca cerita sebelumnya nih dia Dia Memeluknya Penuh Cinta



Setahun berlalu…
Siang ini, teriakan-teriakan riuh para penonton bersorak di festival musik seusai melihat pertunjukan band kenamaan dari sebuah kampus kenamaan di Tangerang yang membawakan lagu American Idiotnya Greenday dan The Beginning milik One Ok Rock. Padahal ketika membawakan lagu tersebut vokalisnya bingung, dia engga tau liriknya. Ternyata setelah diselidiki, teriakan-teriakan riuh penontonnya seperti ini.
“Turun! Turun! Turun!”

Vision, band yang sedang naik daun di kampus tersebut digawangi oleh Jo vokalis, Rey gitaris satu, Ken gitaris dua, Sam bassis dan Eda drummer. Saat mereka turun dari panggung suara histeris itu masih terdengar hebat dikerumunan para penonton. Gapai-gapaian tangan terlihat saat Jo berjalan beriringan dengan yang lain di belakangnya kala keluar dari panggung.
“Jooo… Jooo… Jooo…” suara teriakan histeris para fans wanita yang mengagumi Jo di pinggir jalan yang terbatasi oleh pagar.
“Joooooo… Joooo… bisa nyanyi kagak looo!”

Dari tempat lain, seseorang bernama Didi menanti kedatangan mereka seusai tampil tadi. Sejenak Didi sebagai asisten band mereka menanyakan kapan album perdana mereka diluncurkan. Dia berjalan mendekati Jo.
“Jo, jadi kapan lo keluarin album perdana?” tanya Didi yang berjalan di samping Jo.
“Tenang aja Di, gue hanya butuh tiga lagu lagi baru ngerampungin projek kita.” Jo menengok ke arah Didi.
“Ya Di, tenang aja, Jo itu punya karismatik di mata fansnya.” Rey membela Jo, dia berucap dari belakang keduanya.
“Oh tadi suara penonton yang nyuruh turun itu gara-gara karismatiknya si Jo.” pungkas Didi dengan sedikit kekesalannya.
“Betul Di.” jawab Rey.
“Lo liat tuh Ariel Noah  apa karismatik dia ilang pas keluar dari penjara? Engga kan?” Jo berbalik bertanya pada Didi saat menengoknya pula.
“Dia kan udah punya nama, lagipula karya-karyanya udah diakui, sementara lo?” pungkas Didi
“Jauh Di, jangan disamain.”
“Udah gue kira Jo. Jangan lama-lama Jo, sekarang engga ada tawaran dari label yang masuk ke hape gue buat minta kalian jadi rising starnya dan gue bosen kalo kalo harus nunda-nunda mulu.” ucap Didi sambil mengeluarkan hapenya.
Mereka terus berbicara sambil berjalan kearah mobil yang sedang menunggu kedatangan mereka. Sebuah mobil yang selalu mengantarkan aksi dari panggung mereka.
“Lo masih kaku aja, kita ini masih muda masih panjang, so jangan takut kehilangan tawaran, padahal engga ada tawaran juga.” Jo sambil membuka pintu mobil yang terparkir.
“Jo tapi kesempatan itu engga akan datang dua kali.” ucap Didi yang melihat Jo hendak masuk ke dalam mobilnya.
“Tenang aja, dalam hidup gue kesempatan datang berkali-kali, lo engga usah takut.” Jo menepuk dada Didi kemudian memasuki mobil tersebut.
“Jo…” Didi masih berdiri.
“Di, percaya sama kita-kita, Vision ini akan kehilangan pamor.” Jo lalu memasuki mobil dari pintu belakang.
“Ya udah, terserah lo…” Didi kemudian masuki mobil bagian depan.

Merekapun memasuki mobil yang sudah terparkir dan bersiap-siap ke kampus kembali. Disatu sisi, Kai dan teman satu bandnya, Edo. Kai merasa iri melihat mantan personilnya sukses di dunia musikalitas kampus. Di dekat pagar besi, Kai membuang putung rokok yang tadinya menyala sambil menatap tajam seorang Jo.
“Liat aja nanti Jo, siapa yang bakal ancur. Gue apa lo? Kayaknya gue dah.” ucap kesal pria berusia 21 tahun itu seusai melihat Jo dan kawan-kawannya tampil sukses di sini.
Wajah kesal Kai melihat tawa-tawa yang diraih Jo dan anak satu bandnya, membuat dia teringat akan tiga bulan lalu, kala Jo masih ada satu band dengannya.

flashback
Di studio musik kampus mereka. Satu tahun yang lalu, saat tabuhan gitar yang dimainkan oleh Kai dan Edo, gesekan bas yang dimainkan oleh Eza dan petikan drum slow yang dimainkan oleh Edro membuat Jo merasa kesal karena aliran musiknya tak sejalan dengan kemauan dia.
“Lagu apaan nih?!” teriak Jo dengan iringan mik di depannya.
“Lagu kita Jo.” jawab Kai yang sedang memegang gitarnya.
“Pantes amburadul, lo mainin gitar ditabuhi, mainin bass digesek, eh mainin drum malah dipetik!” Jo sambil menghampiri Kai.
Jo, tapi ini kan lagu yang diterima di pasaran.” ungkap Kai.
“Gue engga suka!” pungkas Jo.
“Jo! Lo engga tau selera musik di pasaran!” tegas Edo menghampiri mereka lalu membela Kai.
“Jo, lo engga tau musik!” Kai.
“Terserah lo, gue keluar dari Violet mulai saat ini, karena kita engga sepaham, sorry ya semua.”
Dan Jo pun keluar dari studio musik ini, meninggalkan teman-temannya yang masih berniat memainkan sebuah lagu.
“Jo!” Kai berteriak.
“Udah Kai biarin aja, kita lihat aja nanti siapa yang lebih berkualitas dia atau kita?” ucap Edo menenangkan perasaan Kai.
***

Masih menatap dengan rasa dendam, Kai mengeluarkan pisau dari balik jaket hitamnya yang tersembunyi di dalam. Melihat apa yang dikeluarkan oleh Kai, Edo yang berdiri di sampingnya pun menenangkan apa yang ingin dilakukan oleh Kai.
“Kai tenang, ini bukan saatnya, gua minta masukin lagi, banyak orang yang ngeliat.” Edo.
“Engga Do, kalo engga sekarang, kapan kita ngabisin dia?”
“Masih banyak waktu Kai, kita harus sabar kalo pingin bunuh dia, kita harus pake otak.”
“Do tapi...”
“Gue ngerti, tapi kita butuh waktu yang tepat. Sekarang kita ke kampus.” 
“Tapi dia itu apel gue satu-satunya dan gue pengen banget nih ngupas apelnya.”
“Tetep tahan Kai rasa laper lo, gue juga merasakan hal yang sama dengan lo, gue ngerti kok.”
Kai merendam amarahnya di depan Edo, berpikir ini belumlah waktunya. Dan mereka berdua menyusul Jo dan teman-temannya ke kampus.

Bertempat di kantin kampus, Jo dan teman-teman satu bandnya sudah sampai di kampus mereka. Lelah cukup terasa saat tadi tampil di atas panggung, kini mereka ingin habiskan waktu untuk beristirahat sejenak. Sam, Rey dan Ken duduk di tempat yang sama. Eda duduk berdampingan dengan Ratna, kekasihnya. Begitupula Jo yang duduk saling berhadapan dengan Bunga, seseorang yang disayanginya. Sementara Didi tak ada di kantin ini.
“Gimana tadi manggungnya?” tanya Bunga yang duduk di depan Jo.
“Ancur kaya biasa.” Jo jawab dengan santai.
“Baguslah, kapan launching?” Bunga bertanya lagi sambil menikmati jus jeruk di atas mejanya.
Jo hanya tersenyum saat ditanyakan kapan meluncurkan album perdana band yang dia motorinya itu. Lalu Jo menjawab.
“Waktu yang sudah menentukan itu semua, tak lama lagi, kamu tenang aja. Aku udah siapin semua kok buat ngelamar kamu.” senyum Jo.
“Jo, aku ini nanya kapan launching album bukan kapan ngelamar aku.”
“Why? Engga salah kan, hidup ini engga usah dibuat rumit, enjoy aja. Lagipula rezeki itu engga kemana.”
“Au ah bolot! Emang engga kemana, but salah jugakan kalau menyia-nyiakan yang ada.”
“Bunga…” Jo memegang tangan bunga dengan kedua tangannya.
“Merayu lagi?” Bunga dengan menahan senyumnya.
Engga, aku butuh doa dan dukungan kamu, semoga band aku cepat launching album perdana, kenapa? Karena kamu adalah inspirasi aku saat membuatkan lagu.” tersenyum Jo.
“Itu yang aku omongin dari tadi Jo.” senyum Bunga.
“Ya udah yuk, hari ini aku engga ada kelas, kita jalan.” sambil menatap Bunga.
“Yuk, sama aku juga.”

Dari bangku lain, seseorang menatap tajam Jo yang sedang duduk bersama Bunga. Berpeluh amarah yang tergambar saat tangannya mengepal kencang rasa ingin tuntaskan dendam yang ada.
“Jo, cepat atau lambat band lo akan sukses, sama seperti yang pernah lo lakuin ke gue, tunggu tanggal mainnya Jo. Soalnya gue udah lama engga main bareng sama lo, Jo.”
Di ruang perpus kampus, Didi terpisah dari personil lainnya, dia masih dipusingkan jadwal bandnya itu. Dia menuliskan rincian-rincian dari setiap konser dan acara-acara yang akan dijalani Vision.
“Wah, mereka besok ada acara temu sama label terus lagi ada manggung di kutub utara sama selatan, apa Jo udah siap ya?” tanya Didi sendiri.
Sambil memegangi kepalanya, dia menghubungi Jo lewat hape. Berharap kali ini Jo mau bertemu dengan label yang akan menaungi band mereka.
“Jo…” Didi menghubunginya.
“Ada apa sih Di?”
“Besok kita ketemu label, gue harap lo jangan terima lagi.”
“Iya-iya, lo atur aja deh.”
“Jo! Selama gue yang ngatur rencana ini, apa pernah lo…!” Didi dengan kesalnya.
“Iya! Besok gue bisa, tenang aja!” Jo berbalik menabur amarahnya pada Didi.

Jo kemudian mematikan hapenya itu begitu saja, lalu membuangnya. Jo memang begitu, sekali pakai hape buat telepon langsung dibuang hapenya terus beli yang baru. Merasa seperti kacung, Didi memukul tangannya ke meja yang menjadi tempatnya menulis. Plak! Terdengar itu semua oleh orang-orang di perpus. Semua mata tertuju pada Didi.
“Lo kapan sih Jo bisa hargai kerja keras gue! Percuma kalo rencana yang gue buat cuma jadi angin lalu buat lo!” Didi sambil menggerutu.

Didi lalu keluar dari perpus dengan perasaan kecewanya, dia beranjak dari perpus ke kantin. Saat berjalan menuju kantin, tak sengaja dari kejauhan dia melihat Jo dan Bunga sedang senyum-senyum berdua, berjalan mesra sambil berpegangan tangan.
“Sementara lo sama ceweklo seneng-seneng, gue? Gue jomblo Jooooo.” Didi dalam hati.
Sampai di kantin, Didi bertemu dengan anggota band lainnya, dia langsung saja terus terang. Begitu dia duduk di bangku kantin, sambutan hangat dia terima tak seperti sang vokalis itu.
“Malam ini kita kumpul, besok ada acara penting yang harus kalian hadiri.” Didi pada yang lain.
“Ok.” ucap serentak yang lain.


43 Responses to "Angin Lalu"

  1. Anjjiiiir kirain mau nusuk, taunya apel!! Taiiik..

    Tumben nih cerita gak terlalu banyak absurdnya. But overall, gooood

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dong, sekali-kali mah jangan absurd mulu

      Delete
  2. lagi sehat ini blog... apa yg nulis lagi gak enak badan yak.. gan ente sehat2 aja kan.. bilang kalo elo sehat2 ya... please.. khawatir gw!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah sehat bang
      aduh makasih loh udah khawatirin saya

      Delete
    2. sukurlah.. jng lama2 beresnya yak, signature loe kan absurd #Hakhakhakhak

      Delete
  3. Ini lagunya kayak gimana kalau drumnya di petik, bass-nya di gesek, dan gitar di tabuhi? ._.

    Kirain kai ngeluarin pisau buat nyakitin Jo, taunya buat ngupas apel :v

    Buset, si Jo abis pake hape, hapenya langsung di buang, dan beli yang baru lagi. Btw, niceeee, tumben banget ceritanya gak seabsurd cerita sebelumnya hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh belom, ini masih pembukaan nanti juga bakalan absurd lagi kok, tenang aja neng

      Delete
  4. tumben kau agak beneran dikit nik? waah kayaknya ada hang gak beres samamu nik, biasanya tulisane ngawur gak jelas ini mendingan.
    walaupun gitar di tabuh.

    kirain ngeluarin pisau buat mbunuh, udah nebak pasti gak jelas dari musik terus tiba tiba horor, eh ternyata engga.

    ini masih ada kelanjutanya gak nik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah di, otaknya rada bener
      ya dong masih ada, ini cerita serius di

      Delete
  5. tunggu, ini ada hubungannya kagak sih dengan cerita sebelumnya yang ane baca dengan yang diatas ? mana bandnya ancur gitu, ya salam mana mo terkenal oyyy bang Niki mending, personelnya diajakin daftar jadi memba jeketi portieit gen 5

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada kok bang, hubungannya itu salah satu di antara mereka adalah abangnya si shinta jojo yang mati itu loh

      Delete
  6. Baru pertama kali gue baca nih tulisan,,, :v :v nampak aura-aura yang gimana gitu.. :v :v

    kalau versi gue gini,,, ada para pembaca sedang menyoraki tulisan si penulis..
    "Turun... Turun... Turun... TURUNKAN POSTINGAN INI!!!" :v :v

    #JustForFun :v :v #JustKidding bro.. :v
    Gue akui, nih postingan menghibur.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aura gimana sob? aura mistis ya?
      kalo mistis itu bukan berasal dari tulisannya, tapi berasal dari kedatanganmu sob

      Delete
  7. Joo.. Joo turun lho Joo..
    Gara-gara lo, gw baca tulisan ginian..

    Wah aku pikir ini kayak tulisan yang sebelumnya yang ada adegan berdarahnya, eh ini gak ada. Pasti sudah kena sensor dari KPI nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. belom, adegan berdarahnya belom keluar, nanti juga ada kok tungguin aja

      Delete
  8. hahahaha jo jo joo bisa nyanyi nggak loooooooo hahahahahaha Siiip Sob.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, engga bisa nyanyi jadi vokalis
      jangan ditiru bang

      Delete
    2. Iya jangan ditiru sob, soalnya malu-maluin kalo diteriakin fans secara histeris wkwkwkwkwkwkwkwkwkw hehehehehe :)

      Delete
  9. Horeeeee akhirnya cerita niki nggak keterlaluan ngeselinnya ,.
    walopun ada bagian yang masih ngeselin kek Gitar ditabuh, tapi Drum di Petik .. itu Kai kok bego banget ya ??

    Terus kirain mo nusuk, e ternyata mo makan apel ,,

    Yah, nggak ngeselin2 amat lah ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh mau cerita yang ngeselin lagi bang? ok siap nanti disajikan kok khusus buat abang azka

      Delete
  10. Absurd banget nie ceritaaaa. Mungkin karnaa q baru pertama mampir x ya BLM TW karater penulis... Pingin nyoba Petik Drum ihhh.. Bunyinya kaya apaa yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih loh neng udah mampir ke blog abang
      liat-liat aja dulu postingan abang yg udah2 pasti dah
      jedodin pala ke tembok

      Delete
    2. Hahaha ma zama bang.. Hahahaaa jdi serem mw liaat posting ya.. Masih sayang AMA kepala baby bang hahahah

      Delete
  11. Drum dipetik? Buah mangga noh lu petik! :(

    Nik, gue bingung deh, kalo band ancur terus kenapa bakalan dibilang sukses sama Kai? Hm....

    ReplyDelete
  12. tumben gak absurd banget nih bang.. ahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. belom bang, nanti juga ketemu absurdnya

      Delete
  13. Kampret lo Nik....
    Kirain si Kai mau ngabisin elo... ah malah cuman mau makan bawang! Sialan!!!

    Jujur, gue suka ama si Jo.... PD, OPTIMISTIS, IDEALIS dan agak SENITIMENTALIS KRITIS, ISIS,... halah... pokoknya gue suka Jo... *Eh, Jo itu laki-laki kan Nik? Kalau perempuan gue ogah.... dah bosen ...
    hahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. cie cie yang kesemsem sama jo, sayangnya jo udah punya cewek mas
      namanya bunga, bukan darsono apalagi darsini

      Delete
  14. Luar biasa imaginya kk niiiy ..sptnya msh menumpuk idenya sblm diluncurkan susulannya.
    Jo n bunga ... lalu Didi yg jomblo melongoooo ..oh

    eh lhaaa kk Niki meringiiss qiqiqiq sambil gebukin gitar :) "waiting..warning".

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dong masih banyak, belom ditumpahin semua, kalo ditumpahin ntar basah

      Delete
  15. Hmmmm thriller nya belum ya...
    Baru pamer pamerin pisau aja.

    #Nunggu
    #SesiBerdarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang berdarahnya 2 sesi lagi, sabar aja hahaha

      Delete
  16. Kamu sakit, Nik? Tumbenan banget nih nggak absurd banget wkwkwk :D nggak beres, pasti Niki sakit nih :(

    ReplyDelete
  17. band yang bagus itu banyak
    tapi yang ancur itu jarang
    pasti yang ancur cepet ngetop :v

    ReplyDelete
  18. Gue yakin kalo lo yg jadi vokalisnya yg nonton pada diem.... Pulang!

    ReplyDelete
  19. "Gimana tadi manggungnya?" Tanya Bunga.
    "Ancur kayak biasa" jawab jo santai.
    "Baguslah, kapan launching?"

    Ancur kayak biasa. KOK MALAH BAGUSLAH?

    Aaaaarrrrghhh. Nik, Didi itu nama panggilan gue loh. Serius.

    Jadi, tolong jangan bikin ending yang absurd, ya.

    ReplyDelete