Aku Punya Mimpi




Sore hari, ketika Ken sedang santai di rumahnya sendirian sambil menonton televisi. Ayahnya yang selepas pulang dari kantor memasang wajah kecewa. Lalu duduk di sofa disamping Ken sambil memegangi kepalanya seraya orang pusing.
“Yah, kenapa?” tanya Ken melihat wajah kusam ayahnya.
“Ken, kamu mau kuliah apa mau jadi pengamen sih?” jawab sang Ayah saat menoleh kepadanya.
“Emang kenapa yah?”
“Barusan ayah dapat telepon dari kampus kamu, katanya kamu jarang mengikuti perkuliahan, kamu kenapa? Apa mau jadi anak band?”
“Udah pinter yah.” ucap santai Ken.
“Ken! Ayah mengkuliahkan kamu itu buat kamu jadi orang sukses! Tapi apa sekarang? Kamu menyia-nyiakannya! Kamu pikir kuliah itu gratis?” lantang sang ayah.
“Ya bayar yah.”
         
Kekesalan dalam hati Ken pun timbul usai mendapat gertakan dari sang ayah. Matanya memandang sang ayah dengan tajam. Tapi engga berani, lirikan mata sang ayah lebih tajam darinya.
“Ken juga kan punya mimpi, yah!”
“Jadi anak band? Apa istimewanya sih anak band?”
“Banyak yah, dikagumin sama cewek-cewek yah, terus lagi bisa tour keliling kota yah!”
“Keliling kota? Kamu aja jalan dari kamar ke toilet aja nyasar nak! Terus ada penghasilan dari kamu ngeband? Kamu itu belum dewasa nak, karena belum bisa menghasilkan uang!” tegas sang ayah sambil menepuk meja yang terbuat dari kayu di depannya.
“Ayah selalu menganggap dewasa itu kita udah mampu dalam materi? Ayah benar!” Ken berdiri terbawa emosinya.“Sudahlah Yah, cape Ken dimarahi mulu, lebih baik dari dulu Ken ikut dengan Ibu!” Ken lalu pergi dari rumah.
“Ken!” ayahnya pun turut berdiri melihat sang anak pergi dari rumah ini.
Ken pergi meninggalkan rumah begitu saja, membawa amarah yang singgah dalam hatinya. Pintu rumah pun di tutup dengan kencang, seperti membanting.
“Arggt… anak itu susah dibilangin.” ayahnya menggerutu.
Sepuluh detik kemudian, Ken kembali menemui ayahnya.
“Ken?”
“Yah, pintu keluar dimana ya yah? Ken lupa.”
“Oh dari sini belok kanan Ken. Tuhkan di rumah sendiri aja nyasar.”
“Ok.”

Ken pergi ke suatu tempat, tempat yang jauh dari rumahnya. Tempat yang disekelilingi oleh puluhan pohon-pohon rindang. Dia bersandar di bawah pohon sambil merasakan kekesalan di dalam hatinya. Angin berhembus menemani lamunan kesal anak itu.
“Angin, coba kau katakan pada ayahku, bisakah dia memahami kemauanku sekali saja. Aku juga punya mimpi, mimpi yang kini ada di hadapanku. Angin, aku yakin dia pun akan bangga bila melihatku bisa sukses dengan mimpiku, tapi kenapa dia tak mengerti keinginanku itu. Apa salahnya berjalan menuju arah sendiri selama itu tak menyimpang? Aku pun bisa menjaga diriku sendiri, aku tau mana yang baik dan mana yang buruk, aku sudah dewasa. Aku ingin ayah mengamini mimpiku, aku ingin ayah membiarkanku berjalan di atas mimpi-mimpiku sendiri.” ujar Ken dalam hati sembari menikmati semilir angin yang bertiup. Ken lalu menghembuskan nafasnya, “Payah, percuma gue nanya sama angin, kalo engga dijawab.”
Ken lalu berdiri dari sandarannya, dia melihat ada anak yang begitu bahagia bersama ibunya. Melihat hal seperti itu membuat dia iri saja.
“Hal di depanku, rasanya aku ingin merasakannya juga. Mereka dengan ceria mampu berbagi dengan ibunya, aku iri. Iri aja gitu ngeliat ibunya yang cantik terus bodinya behhh kayak gitar Spanyol.” Ken dalam hati.

Sementara di tempat lain, lampu gantung bergoyang di atas kepalanya. Terang kadang menyinari wajahnya yang penuh luka dan dendam. Menatap cermin di depannya, dia lalu tersenyum sadis bak tawa setan. Berpancar amarah yang tak bisa dia bendung.
“Sambil menatap cermin di depan gue, gue bersumpah akan membalas mereka yang sudah bermain-main dengan adik gue, heh. Kalian takkan bisa lari dari kenyataan itu. Kepedihan dan kesendirian yang  gua alami ini akan segera terbayar lunas dengan darah dan airmata yang nantinya akan mengalir di setiap pori-pori tubuh kalian.” ucapnya penuh dendam. “Kerenkan kata-kata gue?”
Planting! Orang itu lalu memukulkan tangannya sendiri ke cermin hingga cermin itu pecah. Goresan sisa-sisa pecahan kaca mengenai ujung tangannya itu hingga membuat kulitnya mengelupas kecil-kecil. Darah tak bisa dihindari walau hanya berupa bintik-bintik menempel di tangannya itu.
“Tak ada seorang pun di dunia ini yang rela adik tercintanya harus mati oleh orang lain! Tak ada satupun yang bisa menerima kenyataan itu, termasuk gue.” ucap orang itu. “Aduh sakit banget ya mecahin cermin.”
Dia melihat darah yang bersimpuh di antara telapak tangannya, mengalir tanpa rasa sakit padahal sakit tuuuh. Kemudian dia berjalan menuju kamarnya yang sederhana, dia mengambil sebuah topeng hitam dari lemarinya di kamar. Seusai dari kamar, dia berjalan ke gudang, saat sampai di gudang dia melihat ada linggis, kapak, palu, dan masih banyak alat-alat bangunan di dalam gudang itu. Setelah itu dia menjualnya via online.


sumber :animeklopedia.blogspot.com

Malam pun datang. Di basecamp Violet, Kai dan Edo yang tadi siang mendengar Vision akan segera rekaman membuat mereka sendiri kebakaran jenggot. Bersama teman satu bandnya itu, mereka masing-masing duduk di atas sofa. Kai mulai menggambarkan wajahnya penuh emosi, kemudian dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Mereka besok mau ketemu sama label, sementara kita cuma diem-diem doang ngeliat mereka bakal sukses!” Kai pada teman satu bandnya yang sedang duduk di atas sofa.
“Tenang Kai.” ucap Edo yang duduk di sofa.
“Tenang-tenang! Lo pikir Do, mereka itu lagi engga digandrung-gandrungi sama anak-anak kampus, anak-anak sekolahan juga, anak tk juga! Pikir pake otak, pas mereka ngeluncurin album pertama otomatis albumnya pasti engga bakal dibeli sama anak-anak!” Kai sambil menunjukkan telunjuknya ke kepala sendiri.
“Iya-iya kita tau itu.” Edo santai.
“Tau? Kenapa kalo tau lo semua pada diem aja?”
“Iya sob, kita pikirin lagi gimana caranya buat…” ucap Eza yang juga duduk di sofa.
“Malam ini kita serang dia!” Kai mengepalkan kedua tangannya.
“Kai!” Edo.
“Kalo kalian engga mau ikut? biar gue sendiri yang ke sana!”
“Ya udah sendiri aja sono.” ucap Edo, lalu dia berdiri.
“Gua engga bisa untuk malam ini.” ucap Edro dengan suara kecilnya.
“Ya sorry bro, gua juga sama.” tandas Eza.
“Terserah kalian, gue engga jadi kalo sendiri.”
Tapi pada akhirnya Kai dan Edo bergegas meninggalkan basecamp ini menuju markas besar Vision. Edro dan Eza hanya diam di basecamp, tak tau harus berbuat apa. Mereka berdua sedikit muak dengan apa yang dilakukan Kai.
“Seharusnya Kai udah engga perlu lagi urus mereka, cukup urusin bandnya aja.” Edro.
“Iya Dro, kenapa sih dia ambisi banget buat jatuhin si Jo?” Eza.
“Engga tau Za, gue sih takutnya dia diluar batas dan berubah jadi super saiya 5.”
“Jangan berpikir negatif dulu bro, siapa tau bener.”
“Lo tau Kai, anaknya gimana? Apa kita nyusul aja buat cegah dia?”
“Engga usah lagiankan masih ada Edo dan anak-anak Vision buat bonyokin dia.”
“Ya udah, kita cabutlah.”
Eza dan Edro pun meninggalkan tempat ini.

Di basecamp Vision, baru saja mereka dan juga Didi membahas tentang pertemuan yang akan dilaksanakan esok hari. Didi menjelaskan secara rinci tentang kegiatan-kegiatan yang akan dijalani bandnya itu di hadapan yang lain sambil duduk-duduk di atas sofa.
“Jadi kaya gitu, engga keberatan kan?” tanya Didi yang berdiri di depan yang lain.
“Engga, Di… lo atur aja deh.” Jo dengan pasrahnya.
“Jo, lo kenapa engga bisa hargai usaha gue? Atur-atur, sementara lo sendiri?” kesal Didi.
“Di, band ini tanpa gue, mau jadi apa? Jadi sukses. Mending lo turutin aja apa kata gue!” Jo lalu berdiri
“Udah kalian berdua!” Ken melerai berdiri di antara mereka.
“Lo juga Jo, lo kan leader di sini seharusnya…” ujar Sam.
“Kok pada nyalain gue? Kalo si Didi engga mau jadi menejer band kita, mending dia jadi vokalis dan gue jadi manajernya, beres!” Jo.
“Sorry, gue emosi, besok jangan lupa jam delapan udah standby di sini, semua dimohon duduk kembali.” Didi bersuara lemah.
“Iya-iya jam delapan kita kumpul di sini, terus cabut ke sana!” ucap Jo dengan wajah kesalnya.
“Yang lain jangan lupa ya?” Didi mengingatkan.
“Iyaaaa…” serentak yang lain.
“Ok, jadi rapat kita cukup hari ini, yang mau pulang, silahkan, yang mau nginep di sini juga, silahkan, tapi bayar” ucap Didi.
“Gue di sini aja deh, lagi pusing gue di rumah.” ucap Ken sambil memegangi kepalanya.
Semuanya pulang kembali ke rumah kecuali Ken, dia menginap di basecamp ini sendirian. Matanya seakan terbawa oleh pilu emosinya yang masih menempel di hati. Mengenang ketika ayah dan ibunya dulu bercerai.
flashback
Di dalam rumah Ken, Ken melihat ayah dan ibunya saling beradu omongan, seusai dia pulang sekolah. Ken hanya berdiri dengan seragam putih merah-merahnya di hadapan ayah dan ibunya yang bertengkar kembali. Kepalanya tertunduk, kecewa dengan apa yang ada di dalam keluarga kecilnya ini.
“Ayah… ibu… Ken dengar…” Ken yang berdiri di hadapan ayah dan ibunya.
“Cukup! Aku engga mau lagi tinggal di rumah ini!” tandas sang ibu.
“Teserah kamu! Kamu mau tinggal di jalanan, kolong jembatan, aku engga peduli, asalkan jangan bawa-bawa Ken ikut dengan kamu!” lantang sang ayah.
“Mas, Ken itu anak aku!”
“Ya aku tau, tapi aku udah nyumbang juga loh.”
“Mas…”
Ken yang berdiri di hadapan mereka seusai pulang sekolah, hanya bisa ikuti kemauan ayahnya yang keras itu.
“Ken, hari ini kamu akan tinggal di sini bersama ayah, engga lagi sama ibu kamu.” sang ayah menunjuk Ken yang masih berdiri.
“Tapi yah?”
“Udahkan kamu turutin saja perkataan ayah.”
***
“Seandainya dulu aku pilih kamu, ciee kamuuu. Seandainya aku itu pilih ibu, mungkin dia akan mengamini dan mendukung mimpiku ini. Ibu, Ken engga tau dimana ibu sekarang, Ken hanya bisa meminta doa ibu dari jauh.” ujar Ken dalam hati.

Di sisi lain, sebuah mobil terparkir tak jauh dari basecamp mereka. Tak terlihat satupun kendaraan  dari anak-anak Vision yang terparkir di halaman basecamp Vision.
“Do, mereka kayanya udah pada cabut.” Kai yang mengendarai mobil melewati basecamp itu.
“Iya… kita telat.” Edo yang duduk di samping Kai.
“Kita kan cowok Do, yang biasa telat datang bulan tuh cewek Do.”
Kai dan Edo membatalkan niat mereka seusai melihat Jo sudah tiada di basecampnya. Kai memundurkan mobilnya, kemudian berjalan berbalik dari arah mereka kini. Kai mengantarkan Edo kembali ke rumahnya.

15 menit berlalu…

Di dalam sebuah mobil yang dia kendarai, dia memakai topeng yang dia bawa dari rumahnya, dia memakai pula sweater hitam dan kaos tangan berwarna putih serta tak lupa ada sebuah linggis tertidur bersandar di bagian belakang mobilnya. Wajah yang tertutup oleh topeng tak menutupi niatnya malam ini untuk memulai langkah baru di dalam hidupnya.
“Satu persatu mereka akan tau dengan apa yang telah mereka lakukan. Mencari keadilan yang benar kumiliki, heh rasanya ini cukup adil mengingat semua masalalu itu.” tekad orang itu sambil melaju terus ke basecamp Vision.
Orang itu kembali menuju basecamp Vision penuh dengan senyuman tak wajar yang tertutupi oleh topengnya.

Sejam berlalu, Ken masing dipusingkan dengan kemauan ayahnya yang keras. Melihat jam di dinding ini bahkan membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
“Jam segini mata gue masih melek.” ucap Ken yang masih duduk di sofa.
Sekedar untuk menemaninya dikala hampa, dia mengambil sebungkus rokok dalam kantung celananya. Dia nyalakan rokok dengan apai, kemudian apinya yang dia hisap. Asap berhembus dari mulutnya, melayang terbang mengitari ruang basecamp ini.
“Huh, semoga aja besok mimpi itu akan terwujud.” ujar Ken dalam hati.
Krek… krek… krek… terdengar suara dari pintu depan basecamp. Tok… tok… tok… kini suara ketukan pintu terdengar sampai di telinganya.
“Iya, siapa itu?” Ken menyahut.
Tok… tok… tok… tanpa membalas suara Ken, pintu itu kembali terketuk.
“Siapa lagi malem-malem gini ngetuk pintu?‼!” Ken berdiri hendak membukakan pintu.
Merasa terganggu, Ken lalu berjalan ke depan membukakan pintunya. Matanya melihat seseorang yang tak dia kenal memakai topeng dengan sebuah linggis di tangannya.
“Lo siapa?!” tanya Ken.


Nyambung…

Share this :

Previous
Next Post »
36 Komentar
avatar

eh gubrak.. dijual online, gak bisa ketebak nie.. yg ini original banget

Balas
avatar

gue tau dia siapa? dia yang beli topeng dan linggis di online shop!

Balas
avatar

Hmm.. Gatau lah maksud orang tua kayaknya emang baik2.. Tapi kemuan kita nya aja yg pengen ini itu.. Iya sih. Kita emang punya jalan sendiri..

Dan..

Yg bawa linggis itu gue

Balas
avatar

Kamprett siapa bilang gue gak bisa jawab?
penulis'a aja yang gak mau ngetik kata-kata gue

Udah Ken, udah gue sampaikan sama ayah lo kemauan lo itu seperti apa.
Katanya, dia gak bangga punya anak yang suka main band, karena anak band suka'a ngeband.

Balas
avatar

ah lebih seru yang colkat sama ival nik ceritanya.
sialan kirain liat anak sama ibunya ngiri karna pingin kayak anak itu, pingin ketemu ibunya malah.. liat body ibu anak itu.

wooh bagus itu kemudian dijual, alat bangunan.
dialognya bikin pusing aja nik.
mantaap lah. anak band..

Balas
avatar

Aduh kebanyakan character nih nik, jadi bingung sama alur ceritanya.
Yang ngeband itu siapa aja sih ?? Ken itu anggotanya kai ya ??
Terus leadernya Kai apa Jo ??

Di awal cerita ken udah minggat, kok ayah sama ibunya berantem dia ada lagi ??

Aaaarrrrgggghhhh

Balas
avatar

Njir... gue yakin, endingnya si Ken diajak untuk jualan barang2 di gundang via Online. "GUe ketawa parah, nik. Cerdas juga, lo nulisnya."

Tapi, banyak bagian yang lebay, menurut gue. Eh, tapikan ini ciri khasmu yg LEBAY.

Kasihan juga, Ken. Karena memilih bareng Ayah, malah hidupnya sengsara. Passionnya gak didukung. Semoga kelanjutannya beneran Jual Online, deh. Sukses jual online dan gak jadi ngeband.

Balas
avatar

Salah
Dia itu yg suka main laptop tapi laptopnya disambung langsung ke listrik

Balas
avatar

Ngapain lu bawa2 linggis segala?

Balas
avatar

Oh makasih ya angin udah disampaein sama bokapnya ken
Makasih banyak loh
Aduh jadi enak

Balas
avatar

Tenang bang adi
Coklat ivalnya masih ada
Tungguin aja
Minum obat bang kalo pusing
Hahaha

Balas
avatar

Lah saya aja bingung yg buat cerita
Yg ngeband itu ada 2 jo cs sama kai cs
Mereka bedua beda band
Kalo vision band leadernya jo
Kalo violet band leadernya kai

Kan itu flashback bang

Balas
avatar

Ini sebenernya cerita murni thriller tapi diubah jadi komedi yg lebay2 gitu bang her
.
Endingnya nanti yg mati pada idup lagi

Balas
avatar

original ituh, jokenya blom pernah gw denger..

Balas
avatar

wwuuaaahhhh.. seru juga ceprennya. jadi ngantuk! hehee

Balas
avatar

Ya Tuhan, jadi Kai sebenarnya maunya apa ??????? iri ngeliat album pertama vision nga laku.? Astagfirullahaladzim... si Kai itu bego ato dongo yeh.. oh iya bang si Kai itu nga punya pacar yah bang ? berarti jomlo dong kek abang.,

Bang lu tai kagak, *Eh lu tau kagak, ane udah beli linggis, kapak, palu yang di jual sama orang bertopeng tadi. Mau tau harganya berapa ? esymesyemsemsesmsyeeeeehhh...... kepo aja lu bang. TeWeBe oi bang, emak jang body kek gitar spanyol sertain foto dong. Apaan cuman deskripsi doang foto kaga

Balas
avatar

Harusnya yang capek itu yang marah bukannya yang dimarahi.. :p


Ya Allah kirain kenapa, ternyata iri punya ibu yang bodynya kaya gitar spanyol.. separo konyol

Nyambung... kapan putus?! :p

Balas
avatar

Bapak : ya sudah sebutkan saja mimpimu apa 'nak. Bapak pasti ngedukung asal jgn mimpi di siang bolong ....

Si anak masih garuk2 hidung sembari ngeromed : " ... lah gimana gimana mau sukses mimpi, baru aja starting mimpinya .. udah ada yg ganggu ketok2 pintu ...

waduuuuuh bawa linggis pula : aarrgghhh pasti mau maksa gue suruh beli tuh barang gak laku di online shop ... jual maksa ... beuhhh , kalo gak inget sesama anak band , mah ....

Balas
avatar

Jadi itu alat-alat bukan mau dipake buat potong-potong???
#gagalthriller
#gagalpsikopat
#tapilucusik

jual di bukalapak apa OLX??

X))))

Balas
avatar

Btw tentang tokoh flash fiction gue "KAI" yg mirip sama tokoh cerbung cokolet, itu kayaknya kebetulan doang kok. bukan pertanda jodoh.

Bukan.

Gue ambil nama KAI dan DYO itu dari member grup EXO

jadi gausah geer :p

Balas
avatar

Kampret banget si Ken wkwkwk XD Imajinasi lo keren banget nik. Konyol banget XD

Balas
avatar

itu pingis buat apaan? nyongkel topeng?

Balas
avatar

Au tuh si kai bang
Kok dimari egga ada tokoh yg bener ya
Sengklek smua bang
Aneh dah
.
Wah maap mas stok potonya abis

Balas
avatar

Salah
Seharusnya yg cape itu yg lari muterin bumi 100 putaran nonstop

Balas
avatar

Hahaha jual maksa biar dapet untung gede
Kalo ga beli bacok
Wkwkwkwk

Balas
avatar

Dikit lagi nih adegan bunuh2nya
Sabar aja
Yah sayang kita bukan juduh
Hanya kebetulan pake nma yg sama

Balas
avatar

Ah masa sih
Engga percaya saya
Tapi kalo dibilang keren
Apa boleh buat

Balas
avatar

nama Gengnya kayak nama montor "yamaha viksion"

nik, itu orang make topeng apa make celana dalem???
ngapain juga bawa linggis, wong kamu kan bawa pestol!!!!

Balas
avatar

Anyiiir -_- kirain kapak palu linggisnya mau dibuat apaan -_- ternyata dijual online -_- Fyuuuuuuh, anaknya OLX ya kamu Nik -_-

Kamu tau nggak siapa yang bawa linggis itu? DIA OWNERNYA OLX!!!! -_-

Balas
avatar

Yang pake linggis itu pasti si Coklat atau nggak temennya si Coklat *lah kan ini beda cerita*

Rumahnya Ken itu sebesar apa sih? Sampai lupa gitu, apa jangan-jangan Ken itu punya penyakit amnesia?

Balas
avatar

coba tadi si ken ngobrol sama kipas angin, mungkin dia bisa sedikit memberikan respon dengan geleng-geleng. hehehe

Balas
avatar

Eh nik, jangan jangan pria bertopeng itu abang tukang odong odong? Soalnya dia gak pernah jualan bakso dirumah gue..
Btw, online shop itu toko online yah? Jadi kita belinya dimana? Kalo didesa gue ada online shop gak?

Oh iya nik, ayahnya ken kerjanya apa sih? Dia kan pengangguran, kok dia punya istri tapi gak punya anak? Terus ken itu istrinya siapa? Ceritanya gak nyambung nih!

Balas