Ken!


****
Pagi datang, saat mentari mulai bangun dari mimpi indahnya. Secangkir kopi dan sepotong roti menjadi teman kala pagi ini terambut di halaman rumahnya. Jo menikmati semua. dia melihat hape yang tergeletak di atas meja sarapannya lalu mengambilnya.
“Doain aku semoga hari ini sukses,” ujar Jo sambil mengirim pesan bbm kepada Bunga.

Tahap demi tahap, Jo menelan sepotong roti yang sudah terkunyah di dalam mulutnya, tak luput dia menenggak secangkir kopi sebagai penutupnya. Tak berselang lama, Jo memuntahkan kembali cangkir yang tenggaknya.
“Sial, gue lupa bukannya minum air kopi malah minum cangkirnya.”

Hapenya bergetar, tanda pesan bbm masuk.
“Iya aku doain kok, tetap semangat ya menghasilkan sebuah karya yang bermakna dan diterima oleh semuanya,” Jo membaca pesan dari Bunga.

Sarapan pagi pun usai dia lakukan, dia merapikan kursi kembali tertata rapih seperti awal semula dan kemudian berangkat ke basecamp.

Di tempat lain pun, Didi juga bersiap menuju basecampnya. Dia berharap kali ini tak ada lagi penghalang atas apa yang telah dia kerjakan.
“Moga-moga aja kali ini lo engga buat alasan lagi, udah cukup buat orang lain kecewa atas kemauan lo, Jo.”

Di kediaman Ken, ayahnya begitu mengkhawatirkan anaknya itu yang sejak kemarin sore tak ada kabar. Sebelum memulai harinya bekerja, dia sempatkan untuk kembali menghubungi anaknya itu.
“Ken kamu dimana? Biasanya kalo laper kamu itu pulang,” ucapnya dalam hati.

Tak ada jawaban yang terangkat dari hapenya. Ayahnya semakin khawatir. Dia berulang-ulang kali menghubungi anaknya itu, namun lagi-lagi tak ada jawaban yang diterimanya. Sang ayah tak menyerah begitu saja, dia terus menghubungi Ken, tiba-tiba sang ayah dibuat terkejut oleh suara perempuan yang mengangkat panggilannya. Ayahnya heran, sanag ayah begitu mengenal Ken, selama ini sang anak tidak punya pacar.
“Maaf, silahkan isi ulang kembali pulsa anda sebelum melakukan panggilan.”
“Kamu siapa? Kamu pacarnya Ken ya?”
“Maaf, silahkan isi ulang kembali pulsa anda sebelum melakukan panggilan.”
“Buktinya saya bisa menghubungi kamu, atau jangan-jangan anda ini orang yang sudah mencuri hape anak saya ya?”
“Maaf, silahkan isi ulang kembali pulsa anda sebelum melakukan panggilan.”
“Mengaku sajalah. Saya akan laporkan anda ke polisi.”
“Gue operatoooooooor!”
“Oh bilang dong.”

***
Tepat pukul 7.30 semua sudah sampai di basecamp, namun tak terlihat Ken. Hal yang tak biasa terjadi, semua anggota band duduk-duduk di sofa sambil menanti Ken.
“Itu anak kemana lagi?” tanya Jo.
“Engga tau, engga biasanya dia engga datang terlambat kaya gini,” ucap Rey.
“Di, lo telepon si Ken gih, gara-gara dia bisa-bisa acara kita batal nih!” lantang Jo.
“Iya gue coba hubungi dia,” ujar Didi.
Didi mencoba menghubungi nomor Ken. Tuuut… tuuut… tuuut, tak ada jawaban saat Didi menghubunginya.
“Engga ada jawaban, gue coba lagi.”
“Cepet!” tegas Jo.

Berulang kali Didi menghubungi Ken namun tak ada jawaban. Sudah lima belas menit berlalu, mereka masih menunggu Ken di basecamp. Didi tampak gelisah ketika jam ditangannya sebentar lagi menunjuk angka delapan.
“Oh iya, semalem kan katanya dia nginep di sini,” ucap Eda.
“Nginep apa diusir dari rumah?” tanya Jo.
“Kalo nginep seharusnya dia udah bangun dari tadi?” ujar Didi.
“Lah kayak engga tau dia aja lo, dia kan tukang tidur,” ujar Sam.
“Sejak kapan dia jualan tidur?” tanya Didi.
“Maksud gue Di dia itu suka bangun siang, bukan dia jualan tidur,” jawab Sam.
“Ya udah kita cari di kamar,” ujar Jo.

Anak-anak pun mencari Ken yang mungkin tidur di salah satu kamar di sini. Satu per satu kamar mereka masuki, namun tak ada satupun kamar yang ditempati Ken.
“Mending kita tinggalin aja tuh si Ken!” Jo saat berada di salah satu kamar.
“Engga Jo, kita harus ke sana semua,” ujar Didi.
“Anggap aja dia mundur!”
“Engga-engga, gue engga setuju. Dia engga ada di sini kok, sok tau lo Jo kalo dia jalan mundur,”  ujar Didi.
“Maksud gue mundur dari band, bukan jalannya yang mundur!”

Satu persatu anak-anak Vision keluar dari kamar. Mereka kembali ke ruang utama basecamp ini.
“Ya udah tinggalin aja tuh anak, lagian tanpa dia kita masih punya gitaris!” tegas Jo.
“Ya udah kita ke sana tanpa dia,” Didi pasrah.
“Sob, bentar ya gue mau ke belakang sebentar,” ucap Rey hendak buang airkecil.
“Jangan lama-lama lo,” pinta Jo.

Didi, Jo, Sam dan Eda masih duduk di atas sofa masing-masing. Tak berselang lama, terdengar Rey berteriak dari belakang.
“Keeen…!”
Mendengar teriakan Rey, semua yang ada di ruang utama cuek-cuek aja.
“Kenapa tuh anak?” tanya Jo.
“Engga tau, kita ke sana aja,” jawab Didi.

Semua terpanggil atas teriakan Rey dari belakang basecamp ini. Sampainya di ruang belakang mereka melihat Rey menangis di depan pintu belakang, lalu tanpa basa-basi mereka segera menghampiri dia.
“Rey, kenapa lo?” tanya Jo.
“Itu… itu… itu Ken…,” ucap Rey menunjukkan jarinya ke arah Ken, tertegun melihat mayat Ken terbaring dengan penuh darah di halaman belakang.

Mata semua melihat betapa Ken tewas dengan sadis. Penuh luka di telapak tangannya bekas tusukan benda runcing, begitupula dengan mulutnya yang masih tertancap linggis. Rasa tak percaya menghampiri di setiap kepala mereka, hingga timbul sebuah pertanyaan, siapa yang sudah melakukan ini?
“Ken..!” teriak yang lain.
“Siapa yang udah ngebunuh dia?” tanya dalam hati Didi.
“Menurut gue sih yang bunuh dia itu ya yang bunuh dia,” jawab Jo.

Usai melihat kenyataan yang terjadi di depannya, mereka hanya diam seolah tak percaya dengan kenyataan. Di halaman belakang bacesamp itu mereka masih berdiri melihat temannya yang sudah tak bernyawa.
“Ken… keji banget orang yang udah buat lo seperti ini,” ujar Sam dengan rasa takutnya melihat Ken yang sudah tak bernyawa.
“Di, lo telepon bokapnya dan gue telepon polisi sama ambulan, yang lain biarkan mayat dia seperti ini dan jangan biarin mayatnya kabur,” ucap Jo.

Didi pun menghubungi ayahnya Ken, sementara Jo menghubungi pihak polisi dan rumah sakit.
“Apa!” ujar tak percaya ayah Ken ketika Didi menghubunginya.
“Iya om, dia seperti itu,” ujar Didi.
“Om akan segera ke sana.”

Seketika telepon ditutup. Ayahkan yang sedang bekerja di kantornya, langsung saja meminta izin dan bergegas ke basecamp. Dia berangkat dengan sebuah mobil yang dikendarainya. Tampak terlihat wajah tak percaya ketika mendengar anaknya tewas dengan cara sadis. Ada rasa sedikit penyesalan yang melekat di dalam hati sang ayah.
“Maafkan ayah Ken, tak seharusnya kemarin ayah marah pada kamu… seandainya itu tak terjadi, mungkin hari ini ayah masih bisa melihat senyum kamu.”

Mendengar ucapan dari ayahnya itu, Ken lalu tersenyum. Seketika teman-teman dan ayahnya pun bingung dibuatnya.
“Payah nih anak, acting matinya engga bisa!” ujar Jo.

 “Maklumlah gue terharu bahagia,” cetus Ken

35 Responses to "Ken!"

  1. "ayah juga cuma acting doang ken" mengambil linggis dan menusuk ken,

    #AyahTersenyum

    ReplyDelete
  2. ini si Ken belum pernah di chidori apa yak :| hemmmmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie cie yg episde kemaren nongol eh udah diganti sama kaguya
      Eh skrng nongol disini

      Delete
  3. Tutur katanya sekarang terasa lembut sob,,, apalagi di awal-awal... Apakah karena secangkir kopi dan sepotong kopi ?? :)

    Bener ya tukang tidur itu bukan berarti jualan tidur, beda sama tukang batagor berarti jualan batagor.. Iya kan sob ya ??? hehehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mana lagi artikel cerita kang diar saya tunggu :)

      Delete
    2. Kalo tukang boong gimana kang?

      Delete
    3. @Kang Effendi: ada dong kanggg... hehehehehehe :D

      @Sob Niki: kalo tukang boong, sederajat sama tukang tidur sob,,, kayaknya... hehehehehehe :D

      Delete
  4. Kayaknya, gak niat acting itu sebenernya. Wkwkwk

    ReplyDelete
  5. Nama panjangnya Ken itu Ken Arok apa Keeennnnn.....?

    Kalau nggak bisa akting coba deh Ken disuruh mati beneran.

    ReplyDelete
  6. Cangkirnya pas diminum rasanya apa yah jo?
    wkwkwkwk...

    itu matinya kok enak banget yah nik????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba tanya sama jonya langsung mbah

      Delete
  7. Haha parah banget tuh ada acara acting mati segala . kasihan dong ayah nya lagi kerja bela-belain pulang dulu . keren sob ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal itu hari libur loh
      Eh ayahnyamasuk

      Delete
  8. wkwkw sampe dibela belain gitu ternyata boong. Sueeee.

    Itu anaknya untung ga bilang "APRIL MOOP" hahaa

    ReplyDelete
  9. Ampun deh saya nyerah aja, ahi hi hi.
    Betewe okeh juga cerita kemarinnya tapi saya maunya cerita sekarang.

    ReplyDelete
  10. kemudian ayah jitak ken dan gak ngasih uang saku sebulan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga apa2 yg penting uang di atm masih jalan

      Delete
  11. NIK, elo dah nonton dedpul belum? masa nobita ditolak sama shizuka coba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kan uciha madara udah diganti sama kaguya
      Untung j saitama opm dateng

      Delete
  12. Nelen cangkir kopi :(
    Operator kampret.

    Nik, Ken, Kita berantem yuk :(

    ReplyDelete
  13. Apaaan ini aku udah serius baca eh ternyata malah acting wkwkwk.

    Btw itu linggis nancep gimana gak kebayang so scary hahaha

    ReplyDelete
  14. hahaha lucu ceritanya :D keren deh pokoknya

    ReplyDelete
  15. Hi hi hi, ada ada saja nih mas ken.

    ReplyDelete
  16. Ini gaul banget malah cangkir yg mau diminum... operator nyampe emosi segala -___-

    Mayan nih tulisannya~

    Apalagi endingnya... hasyu banget~

    ReplyDelete
  17. Haaaahhhh....jadi si Ken itu cuma pura-pura mati yah?
    Hiihh, jail amat itu orang..padahal gue bacanya gue penasaran banget :/
    yang jailnya kayak si ken itu, ntar kalo kejadian bener malah ga ada yang percaya disangka sedang becanda ato pura-pura doang.. kayak pelem apaan yak, pelem orang bule gitu, satu temen suka ngerjain temen2nya pas giliran diudak-udak sama pembunuh bayaran karena videoin kejahatan mereka malah temen2nya ga percaya..

    ReplyDelete
  18. Minum cangkir itu gimana yaaa ??? kamu hebat yaaaa

    ReplyDelete
  19. Yaarabb Bang. Endingnya kampret banget sumpah.
    Etapi kalo dibandingin cerita sebelum-sebelumnya, cerita ini masuk akal sih. Dikit. .-.v
    Tapi serius ini akting? Ai linggis di mulutnya. Ih, sakit nggak itu teh? :(

    ReplyDelete