Asal Usul Hujan


Hujan. Kata orang sih 1% air dan 99% kenangan. Bagaimana itu bisa terjadi, ada apa dengan hujan hingga membawakan sebuah kenangan bagi orang yang dilanda rindu?

Awal mula sebuah hujan tersimpan berjuta kenangan bagi siapa saja yang melihatnya dengan perasaan. Itu tak salah, karena pada jaman dahulu hujan tercipta atas besarnya kenangan si air kepada si garam. Tentu kalian sudah tau air hujan berasal dari air laut yang menguap karena ngantuk. Bukan hanya orang saja ternyata ya yang bisa menguap. Air itu menguap karena terkena panas dan terbang membentuk awan-awan yang kemudian awannya keberatan lalu ditumpahkanlah air itu hingga membentuk yang namanya hujan.

Bagaimana asal mula hujan dan apa hubungannya dengan kenangan?

Pada jaman dahulu, hiduplah sepasang makhluk yang saling menyayangi dan mencintai.  Sepasang kekasih itu adalah air dan garam.

Di sebuah desa yang bernama laut, air dan garam hidup tentram layaknya sepasang kekasih yang jatuh hati. Keduanya tak ingin terpisahkan oleh jarak dan waktu. Mereka selalu bersama setiap saat, namun kebersamaan mereka membuat seseorang yang bernama matahari iri. Wajar jika matahari iri melihat keduanya selalu bersama. Saat itu matahari iri, bagaimana dirinya yang memiliki kekasih bernama bulan selalu tidak dipersatuakn. Saat siang, matahari muncul dengan kesendiriannya. Ketika malam tiba, matahari yang menunggu si bulan hanya untuk ingin hidup bersama merasa lelah, hingga akhrinya ketika malam tiba matahari pulang ke rumahnya. Saat matahari sudah pulang, bulan yang ingin berjumpa matahari harus bernasib sama dengan kekasihnya itu. Hanya kesendirianlah yang bulan dapatkan. Malam hari, si bulan terus sendiri berdiam diri di atas langit. Kenapa ada lagu kalau bulan bisa ngomong tetapi bulannya engga bisa ngomong, itu karena si bulan teramat rindu dengan matahari sampai tak bisa melontarkan sepatah kata pun. Rindu itu berat, tentunya bagi si bulan. Saat pagi menjelang, si bulan yang merasa lelah kembali pulang ke peraduannya. Saat itu pula, matahari kembali muncul hanya untuk mencari si bulan. Makanya itulah alasan matahari dan bulan terbit pada waktunya, mereka berdua hanya ingin saling bertemu.

Kembali ke masalah darimana asal mula hujan.

Si matahari yang iri itu dikenal memiliki kekuatan. Kekuatan yang berupa sinar terpancar dari tubuhnya mampu membuat makhluk-makhluk di dunia ini kepanasan. Si matahari itu membuat si air merasa kepanasan hingga si air yang berada di desa laut tak sanggup lagi untuk bertahan di sana meski ada kekasihnya, garam.
“Sepertinya, aku tidak sanggup lagi bertahan hidup di desa ini,” ucap air pada garam.
“Maksudmu, kau akan meninggalkanku sendirian di desa ini?” tanya garam.
“Aku terpaksa, jika saatnya aku sudah sembuh, aku akan kembali lagi ke desa ini. Janjiku.”
“Janji ya.”
“Satu lagi, jaga desa kita ini.”
“Iya aku berjanji untuk menjaga desa ini.”
Tanpa mengenakan sehelai pakaian pun, si air terbang meninggalkan si garam sendirian di desa laut. Makanya itu kenapa air hujan engga asin kayak air laut itu karena si garam engga ikut sama si air, lantaran udah janji buat ngejaga lautan.

Si air terbang di udara menuju langit, dia ingin meminta bantuan kepada raja langit untuk menyembuhkan sakitnya. Sayangnya, matahari yang belum gembira dengan kepergian si air lantas membuat si air ini tidak bisa pergi ke langit. Hingga pada akhirnya, si air ini hanya berjalan-jalan di udara tanpa bisa kembali lagi ke laut atau pun berjalan terus ke langit. Tak hanya itu, si matahari lantas mengutuk si air ini menjadi awan.
“Kukutuk kau jadi awan!” teriak matahari.
Nah, makanya si air yang berada di udara itu berubah jadi awan karena dikutuk sama matahari.

Meski telah dikutuk jadi awan, si air tak lantas diam begitu saja. Dia terus berjalan agar bisa ke langit untuk menemui raja langit.

Si awan yang sebenarnya adalah si air pun meminta bantuan kepada angin agar bisa membantu dirinya terbang menuju langit. Bersama dengan si angin, keduanya pun mencari jalan ke langit. Namun sayangnya, begitu panasnya sinar matahari, keduanya tak sanggup untuk terbang lebih tinggi lagi.

Kesal tak kunjung berhasil, si awan mulai meluapkan amarahnya. Dan saat si awan meluapkan amarahnya itu terbentuklah petir yang menggelegar. Sebenarnya itu petir teriakan dari si awan karena kesel. Petir itu sebenarnya tenaga si awan untuk menyerang matahari, karena mataharinya terlalu kuat dan tak bisa ditembus oleh tenaganya si awan, maka petir itu menyambar bumi. Nah itu dia kenapa petir menyambar bumi.

Dengan amarah yang masih melekat di tubuhnya, membuat si air ini sedikit demi sedikit mampu melepas kutukannya. Yang tadi awannya berwarna putih lalu berubah menjadi gelap, itu tandanya kutukan si air mulai hilang. Dan disaat kutukannya hilang, si air kembali ke wujud semula. Dan terciptalah hujan.

Kenapa orang yang melihat hujan disaat rindu menimbulkan kenangan?

Itu karena kutukan yang berasal dari si air hingga membuat orang yang melihat hujan terbawa suasana ketika rindu. Kutukan itu adalah sumpah yang berasal dari si air sendiri. Si air yang merasa kesepian karena meninggalkan si garam di lautan.
“Aku bersumpah, setiap orang yang melihat aku turun dari langit akan merasakan rindu dan kenangan seperti yang aku rasakan!”
Begitulah sumpah yang dibuat oleh si air.

Lalu kenapa anak kecil kalau melihat hujan bawaannya senang dan ingin main hujan-hujanan?

Itu karena anak kecil suka kalo main air, dan rasa suka itu membuat anak kecil rindu untuk menyentuh si air. Makanya anak kecil suka main hujan-hujanan karena rindunya kepada si air tersampaikan.
Beda dengan orang dewasa, orang dewasa justru rindu dengan pasangannya. Makanya orang dewasa engga mau main ujan-ujanan sambil telanjang kayak anak kecil.

Kenapa air selalu mencari tempat yang lebih rendah?

Itu karena si air ingin kembali ke desanya, konon desa lautan itu berada di tempat yang paling rendah. Makanya engga heran kalo hujan, air selalu turun ke bawah. Dia itu kangen tau sama si garam.
Si air yang sudah berupa hujan ini, tak lelah untuk mencari si garam di tempat yang rendah. Karena memang yang dia tau desa laut itu berada di tempat yang rendah.
Untuk mencari desa laut, si air terkadang rela harus berenang di got, nyempil ke dalam tanah, atau pun disedot untuk dikembalikan ke lautan. Itulah kenapa si air pasrah aja, dia engga ngamuk atau berteriak bau ketika berada di dalam got. Rindu yang membuatnya fokus untuk mencari kembali desanya.
Dan pada akhirnya, si air bisa kembali lagi ke laut meski dengan cara yang berbeda.

Sebenarnya yang dirindukan oleh si air ini bukan si garam, tapi lautan. Makanya ketika garam yang berada di laut terus diculik oleh petani garam, si air masa bodo. Engga ada ceritanya, si air balas dendam, diam-diam ke rumah si petani garam, terus ngebebasin garam yang diculik.


Share this :

Previous
Next Post »
11 Komentar
avatar

Kalau hujannya di malam hari, tidur itu rasanya jadi nyenyak banget serasa dinina boboin. Tapi kalau hujan di siang hari, gawat karena jemuran gak kering!

Balas
avatar

Jadi ingat penjelasan guru geografi tentang presipitasi. Bang Niki sebenarnya guru matematika atau geografi sih?

Oh iya. Kalau asal-usul air pipis, begimana tuh, bang?

Balas
avatar

Belajar Geografi pasti sangat menyenangkan jika gurunya menjelaskan dengan cara seperti ini.

"Kukutuk kau jadi awan!" Berasa lagi nonton pertunjukan drama baca kalimat itu.

Balas
avatar

Etapi aku sering main hujan-hujanan kalo hujan. Enak. Seru. Jadi aku ini anak kecil atau orang dewasa?

Balas
avatar

Gara2 sumpah si air jemuran jadi basah kuyup lagi :(

Balas
avatar

Enak doang jadi basah jemurannya

Balas
avatar

Pasti g bosen y
G ngantuk hahaha

Balas
avatar

jujur
saya kurang suka dengan musim penghujan. Apalagi kalau hujannya pada waktu jam kerja...rasanya ingin marah-marah saja
karena maklum kerja saya sering di lapangan naik motor

Balas