Sebuah Nama Untuk Anakku




Dahulu dan sekarang memang sudah berubah 180 derajat. Jika dahulu, seorang siswa ketahuan kukunya panjang dan berwarna hitam, tak segan gurunya langsung memukul jemari-jemari siswa itu dengan penggaris. Sakit? Ya dipukul itu memang sakit, tapi siswa dahulu tidak dendam, malah jika mereka melapor ke orang tua, yang ada mereka justru diomeli.

“Kamu sih, makanya kalau di sekolah dengar kata guru, ikuti kata guru!”
Biasanya kalimat omelan seperti ini yang diterima siswa jaman dahulu. Dan orang tua mereka pun mengerti jika anaknya yang salah.

Kini, harga diri guru seakan terinjak. Jika kejadian memukul siswa dengan penggaris terjadi lagi, yang ada siswanya mengadu ke orang tua, dan orang tua tak sedikit yang tak segan-segan membawa kasus ini ke ranah hukum, bahkan tega memenjarakan gurunya. Ironis sekali, saat pahlawan tanpa tanda jasa yang jasanya besar harus menerima coretan hitam dan mendekam di balik jeruji. Jika seperti itu, wahai orang tua, ketahuilah anakmu disekolahkan itu untuk dididik agar menjadi manusia sesungguhnya.

Dahulu, siswa pun selalu menghormati gurunya, menjaga ucapannya, menjaga perilakunya. Kini? Kalian sudah tahu sendiri.
***
Rafi dan Cinta adalah sepasang kekasih yang baru saja menikah. Keduanya pun sudah mengenggam gelar S. Pd. Apa itu S. Pd? S. Pd itu adalah sarjana penuh derita.

Saat keduanya kuliah mereka selalu dipusingkan dengan tugas-tugas dan coret-coretan skripsi. Setelah lulus, mereka susah mencari pekerjaan untuk mengajar di sekolah. Dan ketika sudah diterima di sekolah, mereka harus sabar menahan diri menghadapi perilaku-perilaku anak jaman now. Ya derita, hidup ini memang selalu derita.

Malam ini, tampak wajah kedua pasang suami istri sedang berbahagia. Kebahagiaan pertama adalah keduanya tak sabar menantikan buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam keluarga kecil mereka. Kebahagiaan kedua adalah Cinta selalu memberi semangat kepada Rafi untuk bisa mengajar di sekolah.

Di dalam sebuah ruang keluarga.
“Jika anakmu lahir, kamu ingin anakmu besar nanti mau menjadi apa?” tanya Cinta.
Rafi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sontak hal itu membuat Cinta bingung.
“Kamu kenapa, Mas?”
“Kamu gimana sih? Aku kan cowok, mana bisa aku lahirin anak.”
“Mas, kamu jangan polos kayak gitu juga kaliiiii!”
Lalu keduanya pun tertawa.
“Oh iya, Mas, kalau anak kita lahir. Aku ingin anak kita itu jadi seorang presiden.”
“Engga bisa!” tegas Rafi.
“Kenapa engga bisa? Harusnya didoakan, Mas, agar anak kita jadi presiden.”
“Ya engga bisa lah, anak baru lahir masa udah jadi presiden. Kamu tau sendiri kan? Masih setahun lagi pemilu, ngaco kamu.”
“@%$$^%$$#$%&%&^$‼‼”
“Ngomong apa kamu?”
“Marah-marah itu, Mas.”
Entah bagaimana ceritanya, seorang Cinta dahulunya bisa jatuh cinta pada pria seperti Rafi ini. Enggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Meski tak bisa romantis dan membuat candaan, itulah yang membuat Cinta jatuh hati pada seorang Rafi. Selain membicarakan tentang anaknya, keduanya pun membicarakan tentang pekerjaan. Pekerjaan yang kini belum didapat oleh suaminya.
“Aku besok ada tes di sekolah. Doain aku ya, semoga lulus.”
“Iya, Mas, aku selalu doakan kamu supaya lulus.”
“Dih, kok didoain lulus sih?”
“Lah, harusnya memang didoakan lulus,” ucap Cinta yang agak sedikit bingung.
“Kamu ini. Kamu tahu kan kalau anak sekolah lulus, dia masih belajar di sekolahnya engga?”
“Engga, kan udah lulus.”
“Nah sama, masa aku lulus di sekolah tempat aku mau ngajar. Kalau aku lulus berarti aku engga ngajar di sekolah itu dong?”
“Tesnya, Maaaas, yang luluuuuuus, bukan kamunya yang engga ngajar di sekolah ituuuuuuuu!”
Seusai sedikit berbagi tawa bersama, keduanya pun segera bergegas untuk tidur demi menyambut hari esok.

***

Pagi ini, Rafi dan Cinta bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Jika Cinta sudah mengajar di salah satu ponpes yang tak jauh dari tempat tinggalnya, Rafi masih harus mengikuti seleksi perekrutan guru di sebuah sekolah SMA yang punya nama. Maski keduanya berada di satu atap rumah yang sama, mereka menjalani profesinya masing-masing di atap sekolah yang berbeda.
Setelah melewati tahapan mulai dari tes tertulis, microteaching, dan wawancara. Rafi pun dinyatakan lulus, dan dia pun diterima sebagai pengajar di sekolah yang dilamarnya. Tentu kabar bahagia ini rasanya tak lengkap jika orang yang dicintainya tak diberitahu.

Saat malam tiba, Rafi membawakan dua bungkus nasi padang. Nasi padang merupakan makanan favorit bagi istrinya itu. Di meja makan yang biasanya dihuni oleh nasi beserta lauk-pauknya kini tampak kosong, itu dikarenakan nasi dan lauk pauknya kabur dari rumah mereka, nasi dan lauk-pauknya trauma setelah melihat nasi dan lauk-pauk yang sudah-sudah dilahap begitu saja oleh sepasang suami istri tersebut.
“Hosh hosh hosh, kita selamat,” ucap nasi.
“Akhirnya kita bisa kabur juga,” ucap lauk-pauk.
Woy mana ada nasi sama lauk-pauk kabur gara-gara takut dimakan?!
Bukan begitu ceritanya.
Meja makan sengaja dikosongkan, karena sebelumnya Rafi ingin memberi kejutan bagi sang istri. Kini keduanya sudah duduk di tempat duduk masing-masing.
“Taraaa, aku bawa apa ini?”
“Nasi padang!” seru Cinta dengan mata berbinar-binar.
“Ya, tepat sekali. Karena kamu benar, maka kamu dapat nasi padang ini.”
“Horeeee!”
Alangkah bahagianya Rafi kala melihat istrinya itu senang.
Dan di hari berikutnya, sepasang suami istri ini pun sudah mengajar di sekolah masing-masing.

***

Kurang lebih sembilan bulan berlalu.

Sudah sekitar dua bulan, Cinta cuti dari sekolahnya, dia ketahuan hamil oleh pihak sekolah. Awalnya pihak sekolah ingin memberhentikan Cinta, namun tidak jadi lantaran Cinta ini seorang guru, bukan siswa.

Bagi keluarga kecil yang belum dikaruniai seorang anak, anak adalah impian yang tak ternilai harganya. Hanya dengan melihat senyum seorang anak, rasa lelah yang diderita ayah atau pun ibu seusai bekerja seakan hilang larut dalam senyumannya. Itulah yang kini sebentar lagi dialami oleh Rafi maupun Cinta. Bagi Rafi, menjadi seorang ayah adalah impiannya sejak kecil. Tapi tidak bagi Cinta, dia tidak pernah ingin sekali menjadi seorang ayah, lantaran Cinta adalah seorang perempuan.
Pagi ini, sebelum berangkat mengajar. Rafi mencium perut besar sang istri dengan hidungnya.
“Sebentar lagi, kamu akan melihat indahnya dunia. Semoga kamu menjadi anak soleh, oh bukan tapi anak Rafi. Karena ayahmu ini bernama Rafi bukan si Soleh.”
Setelah itu, Cinta mencium tangan sang suami.
“Kamu hati-hati ya, Pah.”
“Kamu juga, jaga buah hati kita.”
Dan Rafi melangkahkan kakinya menuju tempat dimana dia mengajar.
Setelah itu Cinta sengaja menjatuhkan diri agar kandungannya gugur. Ya enggaklah, mana ada seorang ibu yang mau membunuh anaknya sendiri, kecuali bagi mereka yang sengaja melakukan hal itu dan tak ingin aibnya terbongkar.

***

Sebelum memulai jam mengajarnya, Rafi sempat sedikit bercanda dengan rekannya yang bernama Pak Imam di kantor guru.
“Wah, selamat ya sebentar lagi Pak Rafi punya anak,” ucap Pak Imam yang duduk tak jauh dari Pak Rafi.
“Hmmm, saya lagi pusing nih mikirin nama calon anak saya nanti, Pak Imam ada ide engga?”
“Hmmmm, gimana kalau Imam?”
“Wah boleh tuh, Pak, saya setuju dengan usulannya. Jadi saya berencana menamai calon anak saya itu Revan kalo dia laki-laki atau Nunun kalo dia perempuan.”
“Imam, Pak, bukan Niki atau si Nunun.”
“Lah kan saya bapaknya, terserah saya dong mau kasih nama calon anak saya itu apa.”
“Lah tadi ngapain juga minta saran.”
“Simpen dulu ah namanya di hape, biar engga lupa.”

***

Entah apa yang diinginkan anak jaman sekarang, ingin menjadi seorang jagoan kah? Ingin diakui kah? Kenapa pula tingkahnya itu seperti seorang jagoan, pahadal jika ingin jadi jagoan, kalahkanlah penjahat-penjahat di muka bumi ini seperti menjadi power rangers atau ultraman.
Tahu kah guru kalian itu tentunya ingin mendidik kalian agar lebih baik lagi. Saat kalian tidak naik kelas atau pun tidak lulus, mereka lah orang pertama yang ikut tenggelam dalam kesedihanmu, makanya mereka selalu berusaha membuatmu menjadi lebih baik lagi. Mereka pun hanya manusia biasa, kadang bisa marah, sedih atau pun terluka. Jadi janganlah sakiti mereka. Mereka tak peduli dibayar murah, karena hati mereka sudah ikhlas memberikan segala ilmu untuk anak didiknya.

***

Di dalam kelas yang dihuni oleh para siswa kelas sebelas, Rafi yang selalu sabar menghadapi para peserta didiknya kini menemukan satu peserta didik yang entah ingin menjadi apa. Anak itu dengan sengaja mencoret dan melempar buku milik teman sebangkunya sehingga membuat Rafi yang sedang memberi materi di depan kelas, sedikit terganggu. Rafi yang melihat anak didiknya yang berbuat onar mencoba menasehatinya dengan lemah lembut.
“Nak, sudah jangan ganggu yang lain. Kita di sini untuk belajar bukan untuk mengganggu …,” ucap Rafi dengan lembut.
Bruk!
Anak itu langsung bangun lalu menggebrakan meja dengan tangannya.
“Nya nya nya, lo berisik banget sih. Lagi dapet ya?”
“Orangtuamu menyekolahkanmu untuk menjadi manusia yang berpendidikan dan berakhlak.”
“Terserah gue, Pak, mau jadi apa. Lo engga usah ikut campur masa depan gue!” bentak anak itu.
“Silahkan kamu keluar dari kelas ini, di sini untuk belajar bukan untuk mengganggu yang lain. Kalo kamu engga suka diberi nasehat lebih baik kamu enggak usah sekolah!” tegas Rafi yang sudah mulai tersulut emosi.

Tak pernah sekali pun Rafi dibentak ini sebelumnya, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa, semua orang yang dia temui di kampus begitu ramah. Tak hanya itu, keramahan selalu dia dapat ketika saat masih berseragam sekolah.

Rafi tahu bahwa jika dia gegabah untuk bermain tangan, akan menjadi hal buruk baginya. Namun Rafi juga seorang manusia biasa, yang bisa saja keluar amarahnya. Dan Rafi memilih untuk kembali berjalan ke depan kelas, tak lebih untuk sekedar menenangkan emosinya.
“Woy, Pak, jangan kabur gitu aja lo! Lo engga sadar apa, udah ganggu gua!” teriak anak itu.

Melihat Pak Rafi yang terus berjalan, si anak itu berlari mendekati Rafi. Tak pelak, anak itu langsung memberi pukulan di bagian pundak Rafi, sontak saja Rafi seketika terjatuh.
Luapan emosi yang mengalir di darah si anak tersebut tak mampu terbendung lagi, melihat Pak Rafi yang masih dalam keadaan terjatuh menjadikannya kesempatan bagi si anak untuk memberi pukulan kedua dan seterusnya.

Meski dihujani beberapa pukulan, Pak Rafi tetap tak mau melawan. Anak-anak yang berada di dalam kelas langsung memisahkan anak itu dengan Pak Rafi. Luka memar kini membalut wajah Pak Rafi, tak hanya itu ada bagian perut Pak Rafi yang turut terkena pukulan.

***

Di lain tempat, Cinta sudah dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani proses kehamilannya.

Setelah dibantu oleh dokter dan para perawat, lahirlah seorang buah hati dari kandungannya Cinta. Meski terasa sakit, sakit itu pun hanyut saat bayi kecil itu tertidur pulas di samping dirinya.
“Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?” tanya Cinta pada dirinya sendiri sambil membayangkan sosok suaminya.
“Dia tampan seperti ayahnya. Semoga setelah hari ini, kita bertiga bisa hidup bahagia selamanya,” ucap Cinta.
Dalam pikirannya, Cinta membayangkan dirinya duduk bersama suami dan anaknya. Tersenyum bahagia, melihat sang bayi kecil.

Dalam pikirannya, Cinta membayangkan jika anaknya besar nanti menjadi anak yang berbakti dan hormat kepada orang tua, guru dan orang-orang yang lebih tua dari anaknya.
Dalam pikirannya, Cinta membayangkan jika anaknya besar nanti mampu menjadi anak yang periang, bersahabat dengan siapa pun dan dapat mencari istri yang cantik, kaya dan juga punya banyak harta warisan. Kan lumayan.

***

Namun, apakah bayangan Cinta tentang senyum dirinya bersama suami saat melihat anaknya bisa terwujud apalagi dikala saat ini Rafi sedang dilarikan ke rumah sakit akibat luka parah yang dia dapatkan. Ditemani oleh beberapa rekan guru lain di dalam ambulan, termasuk Pak Imam, Rafi mencoba kuat menahan luka parahnya. Kesadaran Rafi saat berada dalam ambulan, terkadang hilang terkadang muncul. Ada tetes air mata bagi Rafi saat kesadarannya muncul, dia mengingat bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
Beberapa saat kemudian, ambulan yang membawa Rafi pun sampai di rumah sakit. Rafi langsung dilarikan untuk diberi pertolongan pertama di ruang UGD.
Rekan-rekan guru yang turut mengantarkan Pak Rafi hanya bisa pasrah sambil berdoa di ruang tunggu.

Lima menit kemudian, dokter yang memeriksa keadaan Rafi keluar dari ruangannya. Di hadapan para rekan guru, dokter itu hanya bisa menarik napasnya sambil menggelengkan-gelengkan kepala. Seketika, air mata tak terbendung dari mereka yang mencoba menyelamatkan Rafi. Di antara mereka yang paling kehilangan adalah Pak Imam. Pak Imam merupakan sahabat Pak Rafi, teman curhat, teman suka dan teman duka. Dan Pak Imamlah yang dipercaya untuk menyampaikan sebuah nama untuk anaknya jikalau dirinya memang harus pergi dari dunia ini.

Flashback on

Saat Pak Rafi dibawa oleh rekan-rekan guru keluar dari kelas, Pak Imam yang merangkul tubuh Pak Rafi diberikan amanat.
“Titip nama ini untuk anak saya, jika saya harus pergi,” ucap Pak Rafi.

Flashback off

Mendengar berita kepergian Pak Rafi, Pak Imam bergegas menuju kediaman Pak Rafi. Sayangnya, istri tercinta Pak Rafi tak ada di rumah. Tak salah jika tetangga itu lebih daripada saudara. Saat Pak Imam tak tahu keberadaan istri Pak Rafi, dia diberitahui keberadaan istri temannya itu.

***

Cinta yang masih berbaring di atas ranjang didampingi oleh bayi kecilnya merasa bahagia saat melihat gagang pintu dalam ruangannya bergerak. Cinta berharap itu adalah suaminya.
Terkadang harapan tidak sesuai kenyataan. Itu pun dirasakan oleh Cinta, saat pintu terbuka bukanlah suaminya yang datang pertama kali menemui dirinya, melainkan Pak Imam, sahabat suaminya sendiri. Pak Imam yang menahan kesedihannya di hadapan istri sahabatnya itu, seketika tersenyum.
“Mirip ayahnya, ya?” tanya Pak Imam.
“Iya. Kemana dia?” tanya Cinta.

Pak Imam yang ingin memberitahu langsung akan keadaan Pak Rafi, tak mampu menjawab pertanyaan dari istri sahabatnya itu. Cepat atau lambat, kabar mengenai kepergiaan Rafi untuk Cinta pasti akan terdengar juga, dan tak bisa disembunyikan. Cepat atau lambat pula, kesedihan Cinta pasti akan datang juga.

Pak Imam memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Cinta. Dia langsung memberikan hp milik sahabatnya itu kepada orang yang sedang menanti kedatangannya.
“Hanya ini yang bisa aku berikan darinya untukmu.”
Seketika Pak Imam langsung berjalan meninggalkan ruangan ini.
“Jadi dia?” tanya Cinta yang masih berbaring.
“Dia menunggumu di tempat yang lain.”

Seketika air mata itu pun pecah, mengalir deras di pipi istrinya. Impian yang dibayangkan pada hari ini, pupus sudah di hari ini pula. Cinta tak bisa menyalahkan siapa pun, karena ini sudah takdirnya, apa pun caranya. Yang dia bisa lakukan adalah menjadikan anaknya agar menjadi orang baik, hormat dan patuh kepada orang tua dan gurunya, menyayangi teman-temannya, berguna bagi nusa, bangsa dan negaranya, jangan pernah melawan orang yang menyanyangi dan mendidiknya. Agar kelak generasi ini cerdas dan bermoral.


Share this :

Previous
Next Post »
1 Komentar