Surat Untuk Ibu


Hukum di negeri ini sangat disayangkan, hanya tajam di bawah namun tumpul di atas. Sepertinya pisau keadilan di negeri ini harus diasah lagi, agar kedua sisinya sama-sama tajam. Begitulah yang dirasakan oleh seorang bernama Rafi, pemuda yang kini bekerja sebagai petani di kampung halamannya sendiri. Dia tinggal dengan ibunya di rumah gubuk, satu-satunya warisan peninggalan dari ayahnya yang masih tersisa. Ada alasan kenapa Rafi tidak mencari pekerjaan di luar kampung halamannya, itu karena dia tidak ingin meninggalkan ibunya yang sudah renta.

Semenjak Rafi lulus dari sekolahnya, dia tidak pernah masuk ke dalam lagi. Meski begitu, tidak ada surat pemanggilan atau hukuman dari pihak sekolah. Iyalah woy kalo udah lulus, ngapain juga lo masih tinggal  di kelas?!

Pernah suatu hari, Rafi meminta izin kepada ibunya untuk merantau pergi ke kota hanya untuk mencari pekerjaan, namun ada kesedihan pada raut wajah ibunya.
“Rafi ingin pergi mencari kerja di kota, Bu, apa boleh?” ucap Rafi dengan mencium tangan sang ibu.
Di benak ibunya, sang ibu ingin melihat anaknya sukses dan bahagia namun melihat keadaannya kini, sang ibu juga butuh perhatian dari Rafi apalagi dia tinggal sendiri, dan Rafi adalah anak satu-satunya.
Tak ada kata yang terucap dari ibunya. Raut wajah sang ibu melukiskan bahwa dia sungguh tak rela jika Rafi meninggalkannya sendiri di rumah gubuk ini, apalagi kondisinya yang tak segagah saat masih muda dahulu.
“Baiklah, Bu, Rafi mengerti. Rafi akan tetap di sini bersama Ibu,” ucap Rafi.
“Tidak apa-apa, Nak, Ibu tau kamu juga ingin sukses.”
“Engga, Bu, buat apa Rafi sukses kalo Rafi menelantarkan Ibu di sini? Itu sama saja membuat Rafi tak bahagia, melihat Ibu bahagia adalah mimpi Rafi.”
Sang Ibu tersenyum.

***

Hari-hari terus berlalu. Hingga pada suatu malam, Rafi baru saja pulang dari sawah yang menjadi tempatnya bekerja. Hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan sampai-sampai pulang sudah larut malam. Rumah menjadi tempat yang dia rindukan, selain rindu akan masakan ibu sendiri, dia pun rindu membagi tawa bersama ibunya tercinta.

Saat kakinya melewati sebuah kebun yang menjadi satu-satunya rute dia untuk kembali ke rumah, tak sengaja dia menemukan bola naga, konon jika berhasil mengumpulkan kesembilan bola naga, maka akan keluarlah sosok naga yang akan mengabulkan permintaan seseorang. Woy! Itu cerita orang lain, jangan dipakai di sini.
Kita ulangi.

Saat kakinya melewati sebuah kebun yang menjadi satu-satunya rute dia untuk pulang, tak sengaja dia menemukan satu buah Gomu-Gomu yang tergeletak. Sontak saja, Rafi langsung berlari menuju tempat dimana buah duren itu tergeletak di tanah dan memakan buah itu. Seketika badan Rafi menjadi lentur seperti karet, tak berselang lama dia mengumpulkan anggota lainnya untuk dijadikan bajak laut. Woy salah cerita tuh! Mana ada orang abis makan buah badannya lentur kayak karet?! Kebanyakan nonton One Piece nih authornya.
Baiklah kita ulangi, ini adegan yang benar.

Saat kakinya melewati sebuah kebun yang menjadi satu-satunya rute dia untuk pulang, tak sengaja dia menemukan satu buah duren yang tergeletak. Sontak saja, Rafi langsung berlari menuju tempat dimana buah duren itu tergeletak di tanah.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rafi.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab buah duren.
Sejak kapan buah duren bisa ngomong woooy?!
Tidak, sungguh tidak ada percakapan antara manusia dengan buah duren, anggap saja itu tidak pernah terjadi.

Melihat buah duren yang sudah terlepas dari pohonnya dan diiringi rasa lapar yang begitu mendalam, membuat Rafi memungut buah duren tersebut. Disaat tangan Rafi mencoba memungut buah duren tersebut, tiba-tiba sekitar sepuluh orang datang memergokinya.
“Oooo, jadi lo yang udah ngambil duren punya gue. Dasar maling!” ucap Revan, seorang juragan tanah yang menjadi pemilik pohon duren tersebut.
“Anu, aku hanya memungutnya saja, tidak lebih. Lagipula duren ini sudah tergeletak di tanah,” kata Rafi.
“Bohong!”
“Aku tidak berbohong, sungguh. Jika kau tak percaya, coba tanyakan saja pada durennya.”
Revan tak percaya atas ucapan Rafi, lalu dia memutuskan untuk bicara kepada buah duren yang masih tergeletak di tanah.
“Eh duren, apa bener lo udah jatuh di tanah pas dipungut dia?!”
Buah duren hanya diam.
“Eh, jawab dong kalo orang lagi nanya!”
Akhirnya Revan pun dibawa ke RSJ. Ya enggaklah!
Revan yang dikenal sebagai orang kaya di kampungnya ini langsung melaporkan Rafi kepada pihak berwajib atas kasus pencurian buah duren.

Pada malam itu juga, Rafi pun resmi menjadi tersangka. Hal yang tak pernah dia duga sebelumnya, jika tahu memungut duren yang sudah tergeletak menjadikkannya sebagai narapidana, dia tidak akan pernah menyentuh duren yang sudah jatuh dari pohonnya.
Satu hari berselang Rafi menjalani sidang atas kasusnya tersebut sebelum dijebloskan ke penjara. Di dalam ruang persidangan turut hadir pula ibunya. Ada kesedihan pada raut wajah dari ibunya kala melihat anaknya harus berurusan dengan hukum. Sang ibu yang turut hadir mencoba untuk menjadi orang tuli saat sang hakim membacakan vonis untuk Rafi, namun usahanya sia-sia. Suara lantang dari mulut sang hakim dan ketukan palu tetap terdengar menyeru di telinganya.
Andaikan Rafi ini adalah orang berdasi, kemungkinan dirinya akan terbebas dari hukuman yang menimpa dirinya. Ya sering kali, orang-orang berdasi yang menjadi tahanan selalu berbelit-belit ketika proses hukum yang berjalan, kadang mereka berpura-pura menjadi seorang aktor agar drama yang dia mainkan berjalan mulus sehingga hukuman yang akan dia dapat perlahan-lahan melupakannya. Sayangnya, Rafi bukanlah bagian dari orang-orang tersebut. Bahkan, ketika masuk ke dalam persidangan atas kasus pencuriannya, tak ada seorang pun yang coba membela atau meringankan atas kasusnya tersebut. Jikalau mulut-mulut yang pandai berkata itu berhati nurani dan tidak mengejar materi di dunia ini, pasti ada mulut-mulut yang membela Rafi.

Seusai persidangan dan dijatuhi hukuman dua tahun kurungan penjara, Rafi pun pasrah dengan keadaan. Dia berjalan sambil dikawal oleh dua orang petugas. Orang-orang yang hadir dalam persidangan pun tak bisa berbuat apa-apa, namun hati mereka seolah biasa saja melihat musibah yang menimpa Rafi, tapi ada seorang di antara mereka yang begitu sedih melihat Rafi harus menerima hukuman. Orang itu, tak lain dan tak bukan adalah ibunya.

Saat Rafi berjalan dengan dikawal oleh dua petugas, Rafi diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya tersebut sebelum Rafi merasakan bagaimana kerasnya dunia dalam balik jerusi besi. Kedua orang yang memiliki ikatan darah ini tak kuasa menahan kesedihan, namun keduanya berusaha tegar untuk tidak meneteskan airmatanya masing-masing. Rafi dan ibunya kini saling bertatap muka sebelum keduanya terpisahkan jarak dan waktu.
“Jaga dirimu baik-baik ya di sana, jadilah orang yang baik,” ucap Ibunda Rafi.
“Ya, Bu, aku akan menjaga diriku baik-baik. Ibu juga ya di rumah. Maafin Rafi, Bu, engga bisa menjadi anak yang baik untuk Ibu. Maafin Rafi, Bu.”
Seketika Rafi berlutut di hadapan ibunya. Kini dia tak kuasa menahan airmatanya yang terus mengalir membasahi pipi.
“Seandainya Rafi tak memungut duren itu, pasti ini takkan terjadi. Maafin Rafi sekali lagi, sudah membuat ibu kecewa. Ibu selalu ada di hati Rafi.”
Sang Ibu mencoba membangunkan anaknya.
Halus terasa, begitulah rasanya ketika belaian tangan dari sang ibu mengelus pipi Rafi yang mencoba menghapuskan air mata sang anak.
“Ibu akan selalu menunggu pulang, Nak.”
Pada akhirnya Rafi dan ibunya pun saling berpelukan. Mencoba merasakan pelukan kasih sayang untuk yang terakhir kalinya sebelum keduanya benar-benar berpisah. Mencoba menahan beban yang sebentar lagi akan dihadapi oleh keduanya.

***

Nasib sial dialami Rafi, dia harus satu sel dengan lima narapidana yang sudah lama menghuni penjara ini. Bisa dibilang, keempat orang itu adalah ketua yang memimpin empat sayap penjara dan satu orang sisanya adalah ketua dari para kelima ketua lima sayap penjara tersebut.

Saat Rafi masuk ke dalam sel, wajahnya pucat dipenuhi rasa takut. Wajar, dia hanyalah pemuda kecil, tak sebanding dengan kelima orang tersebut yang memiliki perawakan lebih besar darinya. Selain mempunyai badan yang lebih besar, kelima orang itu pun memiliki tato di sebagian tubuhnya dan memilki wajah sangar, cocok buat nakut-nakutin tikus di rumah.
“Hey, anak baru, apa kasus lo sehingga lo bisa masuk penjara?!” tanya tegas napi yang bernama Ivan.
Ivan merupakan ketua dari para ketua di penjara ini.
“Anu, cuma mungut duren doang, Bang,” ucap Rafi dengan kepala tertunduk.
“Ahahaha ahahahah.” Kelima napi tersebut tertawa setelah mendengar pengakuan Rafi.
 “Woy, kalo ngomong sama orang lihat mukanya, jangan nunduk gitu!” teriak Ivan.
“I … iya, Bang.”
“Sini lo, gue kasih pelajaran.”
Ivan kemudian berjalan mendekati Rafi, dia menjetik jemari-jemarinya. Disaat itu pula keringat dingin mulai keluar dari kepala Rafi. Setelah menjetikkan jemarinya, Ivan kemudian bersiap membogem mentah Rafi.
Bught bught bught bught bught.
Itu anggap saja suara lima pukulan telak.
Dan … kelima napi tersebut tergeletak di atas penjara.
“Hahahaha, makanya jangan macem-macem sama gue! Itu akibatnya! Mulai sekarang, gue bosnya!” seru Rafi sambil duduk di atas punggungnya Ivan yang sudah tergeletak.
Di hari pertama, Rafi sudah menjadi bos di penjara ini.

***

Beberapa hari kemudian, tibalah hari penjengukan. Tentunya ini adalah momen bagi Rafi untuk melepas rindu dengan orang yang dicintai, siapa lagi jika bukan ibunya. Kini keduanya sudah bertatap muka sambil duduk di atas kursinya masing-masing. Ada senyuman yang terhias di wajah mereka.
“Ibu hanya ingin memberitahumu, Nak, sering-seringlah kamu mengirimi ibu sepucuk surat. Ibu rindu kamu, ibu ingin tahu bagaimana kabar kamu di sini. Waktu penjengukan ini belum bisa mengobati rasa rindu ibu pada kamu. Ibu pun tidak tahu pasti kapan waktu penjengukan akan kembali. Kamu jaga dirimu baik-baik ya. ”
“Baik, Bu.”
“Walau ini rasanya tak adil bagimu, janganlah kamu meluapkan amarahmu pada siapapun. Tak perlu kamu mengotori tanganmu lagi di sini. Karena kamu adalah anak yang baik-baik.”
Tentunya dengan kehadiran dari sang ibu merupakan cahaya harapan bagi Rafi agar tetap bisa menjalani kehidupannya  meski  berada di balik penjara. Dan ibunya lah alasan Rafi untuk tetap hidup hingga benar-benar dia bisa bebas dari sini.
Namun, Ibunda Rafi perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Sang ibu menghilang dengan senyum yang terhias di wajahnya, senyuman tulus sebagai tanda rindu dari sang ibu untuk sang anak.
“Ibuuuu!” teriak Rafi yang bangun dari tidurnya.
Napas Rafi terengah-engah tak beraturan. Saat dia membuka mata, ada rindu begitu mendalam yang dia rasakan. Sedalam rindu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
“Ibu, Rafi kangen sama ibu,” ucap Rafi mendekap tubuhnya sendiri.

***

Siang hari ini, ketika para napi lain mampu tersenyum dengan indahnya kala salah satu keluarga mereka datang untuk sekedar saling bertatap muka, menanyakan kabar atau hanya untuk melepas rindu. Rafi hanya duduk diam sendiri di ruang penjengukan tanpa ada seseorang yang dia rindukan hadir di hadapannya. Rafi pun mencoba untuk tersenyum, membayangkan ibunya duduk, berbicara, dan tersenyum kepadanya. Namun senyumnya itu kembali memudar saat dia sadar bahwa tak ada siapapun yang datang untuk menemuinya.
Rafi tau keadaan ibu di sana, ucap Rafi dalam hati mencoba menghibur diri.
Rafi pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan penjaranya.

Di dalam bilik penjara, Rafi teringat mimpi saat bertemu dengan ibunya. Sepucuk surat, ya sepucuk surat sebagai tanda ruang rindu yang ingin tercurahkan. Rafi pun mulai menulis tentang isi hati kepada ibunya. Meski ditemani oleh kelima napi yang berada satu sel dengannya, Rafi tetap tenang dengan suasana yang sunyi dan sepi. Bagaimana tidak sunyi dan sepi, karena kelima napi yang satu sel dengannya kini sudah bergelantungan terbalik di dalam penjara, tangan dan kaki mereka diikat, dan mulut mereka pun dilakban.
“Siapa yang berani berisik di sini, gue akan tebas otong lo semua?!” tegas Rafi menyeringai kepada kelima napi tersebut sambil memegang gergaji mesin.
Ngeeeeng ngeeeeeeng! Anggap aja ini suara gergaji mesin.
Mereka yang bergelantung pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya masing-masing sebagai tanda mengerti.
“Gue mau nulis surat dulu, jadi gue harap di sini tetap tenang dan engga berisik.”
Rafi pun bersiap untuk menulis surat untuk ibunya, sebelum menulis surat dia menyalakan sebuah radio dan menyetel lagu rock dengan volume yang keras.
“Yeaaaaah, I love rock n rooool!” teriak Rafi.
Dengan suasana yang ditemani music rock, Rafi pun menulis surat untuk ibunya. Namun, Rafi yang merasa terganggu dengan lagu yang berisik seketika marah-marah sendiri.
“Woy, siapa nih yang nyetel lagu rock, engga tau apa gue mau konsen bikin surat malah berisik kaya giniiii?!”
Elo sendiri yang nyetel lagu rock, malah nyalahin orang, peaaaa! Teriak Ivan dalam hati.

***

Setiap hari, Rafi selalu menulis surat untuk ibunya. Lalu dia titipkan pada seorang penjaga penjara yang sudah mengenalnya. Seorang penjaga penjara yang tak lain dan tak bukan adalah tetangganya. Raipansyah, begitulah Rafi memanggil nama penjaga penjara itu. Tentu mudah bagi seorang Raipansyah mengantarkan surat untuk ibunya Rafi, karena tak harus repot-repot mencari alamat rumah. Meski sekarang ini sudah dibekali peta eletronik, namun bisa saja kau salah menemukan suatu alamat saat mencarinya.

Raipansyah yang begitu kenal dekat Rafi, awalnya tak percaya kenapa Rafi bisa dijebloskan penjara seperti ini. Setelah diceritakan panjang lebar oleh Rafi, Raipansyah pun tak mampu membantunya untuk keluar. Bisa saja Raipansyah membantu Rafi keluar, apalagi dia dekat dengan kepala penjara di sini, namun orang yang menuntutnya pun punya nama besar, sehingga sulit bagi Rafi untuk bebas dengan mudah.

Setiap Rafi menitipkan surat melalui Raipansyah, ada senyum terlukis dari wajah Rafi. Senyuman harapan seorang napi yang tak pernah dilihat oleh Raipansyah yang sudah bertugas di sini.
“Bang, saya titip lagi ya.”
“Ok, Raf.”
“Terimakasih ya, Bang, nanti kalo saya janji deh buat traktir abang.”
“Engga usah. Bagi saya ucapan terimakasih itu sudah cukup, karena itu tak ternilai harganya dan tak bisa dibeli dengan materi.”
“Kenapa, Bang?” tanya Rafi.
“Karena engga ada toko yang ngebandrol harga terima kasih.”
“Sa ae nih.”
Begitulah percakapan singkat keduanya saat Rafi menitipkan surat.

Usaha Rafi tak sia-sia, selalu ada balasan surat dari ibunya sendiri. Tentu hal itu menjadi penyemangat Rafi untuk tetap bersabar menanti waktu keluar penjara. Bagi dia, ibunya adalah cahaya harapan yang selalu menerangi gelapnya ruangan penjara. Cahaya harapan itulah yang membuat Rafi selalu ceria di dalam penjara. Dan Rafi pun selalu teringat pesan dari ibunya, yang selalu mengatakan jadilah anak baik. Di dalam penjara ini, Rafi selalu berbuat baik terhadap petugas penjara maupun napi lainnya. Dia selalu membantu petugas penjaga penjara dalam menghabiskan makanan atau membantu para napi melarikan diri dari penjara, sungguh anak yang baik. Baik palelo!
Namun, di balik itu, Raipansyah merasa berdosa setiap kali membawakan surat balasan dari Ibunda Rafi. Meski selalu tersenyum ketika mengantarkan dan menerima surat dari Rafi, nyatanya senyuman yang dibuat oleh Raipansyah itu hanyalah kepalsuan. Ada alasan kenapa Raipansyah harus melakukan ini semua.

***

Dua tahun berlalu…

Kini Rafi sudah bisa menghirup udara bebas kembali. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah berlutut di hadapan ibunya, karena ibunya lah yang menjadi cahaya terang ketika dia berada di dalam penjara. Mungkin jika cahaya itu tak pernah dia dapatkan dalam gelapnya dunia penjara, dia takkan mampu melewati masa-masa keterpurukan dalam hidupnya. Kemudian, dia ingin meminta maaf kembali kepada ibunya karena selama dua tahun terakhir ini dia tak bisa menemani sang ibu dalam terangnya siang ataupun gelapnya malam, tak bisa menemani sang ibu dikala kesepian dan tak bisa menjadi seorang anak yang diharapkan oleh ibunya. Tak lupa, ucapan terimakasih turut pula ingin dia sampaikan.

Rafi tak sendiri saat kembali pulang ke rumah, dia ditemani oleh Raipansyah yang senantiasa menitipkan suratnya. Sampai saat ini surat-surat balasan dari ibunya, masih dia simpan di dalam sebuah tas. Rafi ingin membagi kisah keluhnya selama ini di penjara.

Keduanya pun menuju ke kediamannya Rafi dengan sebuah mobil. Di dalam mobil yang mereka tumpangi, keduanya tak saling bicara. Raipansyah selalu fokus mengendarai mobilnya, tentu ini bukanlah sebuah alasan baginya untuk memilih diam. Melewati jalan-jalan yang sepi, tentunya sepatah atau dua patah kata bisa terucap dari mulut seorang Raipansyah.

Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Rafi pun langsung turun dari mobil tersebut, begitu pula dengan Raipansyah. Sebelum Rafi benar-benar memasuki gubuk tua miliknya, Raipansyah memintanya berjanji untuk bisa tersenyum.
“Hari ini kau bebas, selamat ya.”
“Iya, Bang, terimakasih atas bantuannya di dalam penjara.”
“Berjanjilah saat mulai saat ini, kau harus tetap tersenyum.”
“Iya, saya janji.”

Rafi pun berjalan menuju rumahnya. Tak dia sangka, begitu cepat waktu hingga akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan satu-satunya orang yang dia sayang. Kini Rafi sudah sampai di depan rumah, dia seketika berlari memasuki rumah gubuknya yang tak berubah. Sama seperti dulu saat dia selalu bersama ibunya, berbagi duka dan suka. Ada senyuman dan derai air mata bahagia kala Rafi melihat gubuk tuanya yang semakin tua.
“Ibuuuu!” teriak Rafi sambil berlari.

Rafi pun sudah berada di dalam rumah mencari-cari keberadaan ibunya. Dia mencari setiap ruangan dan sudut rumah ini. Mencari ibunya dari ruang tamu hingga kamar mandi, sayangnya dia tak menemui ibunya itu. Dan Rafi kembali keluar dari rumah menemui Raipansyah, kali ini dengan wajah tertunduk.
“Ibuku tidak ada,” ucap Rafi.
Sementara Raipansyah hanya terdiam.
“Apa mungkin, ibu sedang di sawah. Lebih baik aku ke sana.”
Kini Raipansyah mulai angkat suara.
“Kau tidak perlu menyusul ibumu ke sana.”
“Kenapa?”
Raipansyah tak ingin mengatakan ini, namun cepat atau lambat rahasia tentang ibunya pasti akan terbongkar juga. Baik cepat atau lambat, air mata itu akan kembali menangisi wajah Rafi.
“Ibumu sudah pergi ke sana, ke alam yang memang menjadi tempat pelabuhan selanjutnya.”
“Apa?!” tanya Rafi dengan wajah terkejutnya.
“Ketika beliau tahu bahwa anaknya masuk penjara itu bukanlah sebuah mimpi. Beliau tak pernah berhenti memikirkan engkau. Hingga pada akhrinya, pikirannya itu sudah membuat kesehatannya memburuk. Dan … kematian pun menjemputnya ….”
Raipansyah mulai mengeluarkan kebenaran tentang ibunya Rafi yang sudah tiada.
“… Itu memang tak bisa ditawar lagi, atau ditolak lagi. Sebelum beliau benar-benar pergi. Aku selalu datang ke tempat ini, hanya untuk mengabari bagaimana keadaanmu di sana. Namun, beratnya rindu beliau padamu tak bisa menghentikan pikirannya untuk selalu memikirkanmu. Dan itu berdampak pula dengan kesehatannya. Semakin aku ke sini, aku semakin melihat wajahnya menjadi pucat. Beliau pernah mencurahkan isi hatinya, bahwa setiap malam beliau tak pernah bisa memejamkan matanya karena selalu ada bayang sang anak yang menghantui pikirannya. Kesehatannya yang semakin memburuk, dia pernah berujar kepadaku untuk merahasiakan ini pada anaknya. Dia tak ingin anaknya tahu dan menghilangkan semangat anaknya untuk menjadi orang yang baik. Beberapa hari kemudian, dia pergi meninggalkan kita semua di dunia ini. Saat kau punya harapan agar menjadi lebih baik lagi dengan menitipkan suratmu kepadaku, sebenarnya aku ingin menyampaikan kejadian itu, namun aku teringat pesan ibumu.”
“Engga! Ini engga mungkin terjadi kan?” tanya Rafi.
“Inilah kenyataannya. Maaf, Rafi, aku berbohong kepadamu.”
“Lalu surat-surat yang aku dapatkan dari ibuku itu?”
“Itu adalah surat dariku, aku yang menulisnya.”
“Pantesan jelek banget tulisannya sampe-sampe susah dibacanya!”
“Woyy!”
“Kenapa? Kenapa seorang petugas penjaga penjara bisa seenaknya membohongi seorang narapidana yang terjebak rindu pada ibunya?! Kenapaaa? Kenapa tidak katakana saja semua kebenaran itu?!” teriak Rafi yang kemudian berlutut sambil meneteskan air mata.
“Itu karena aku melihat cahaya harapan pada dirimu sama seperti pesan ibumu yang dititipkan kepadaku. Seandainya surat itu tidak pernah terbalas, apa mungkin kau masih bertahan di sana? Apa mungkin kau kuat menjalani kehidupan di sana?! Namun, ini semua  memang salahku, maafkan aku.”
“Bukan, kau tak salah. Kau benar. Itu permintaan ibuku.”
“Bangunlah, tersenyumlah. Bukankah kau berjanji tadi untuk tetap bisa tersenyum. Kasihan ibumu di sana jika melihat anaknya yang baru bebas bersedih seperti ini.”
Rafi pun kembali berdiri. Dan memancarkan senyuman di wajahnya, walau hatinya masih ingin menangis.
“Baiklah, aku maafkan. Antarkan aku ke makam ibuku.”
“Baiklah.”

***

Sesampainya di makam sang ibu, Rafi tak kuasa menahan rasa sedihnya. Sebagai anak, dia merasa gagal membahagiakan ibunya sendiri. Namun Rafi mencoba menahan air mata yang ingin keluar. Dia tahan semua ungkapan perasaan sedih di hatinya. Dia hanya ingin tersenyum di depan makam ibunya.
“Ibu, Rafi akan berusaha menjadi anak yang baik seperti kata ibu,” ucap Rafi.
Kemudian Rafi menoleh ke belakang, ya ke arah petugas penjara.
“Bang Rai.”
“Iya.”
“Mau kah kau bersamaku?”
“Idih. Gue masih normaaal!”
“Bukan itu. Mau kah kau bersamaku mencari sembilan bola naga untuk menghidupkan ibuku kembali.”
“Baiklah.”
Seketika kedua orang ini berubah menjadi super saiyan yang ditandai dengan berubahnya rambut mereka menjadi pirang serta ada aura berwarna kuning di sekitar tubuh mereka masing-masing. Dan keduanya pun terbang mencari bola naga.
Woy apa-apaan endingnya?! Enggak gitu juga kali, ngerusak momen aja.

Yang bener itu kayak gini.
Kemudian Rafi menoleh ke belakang, ya ke arah petugas penjara.
“Bang Rai.”
“Iya.”
“Mau kah kau bersamaku mencari Orochimaru agar dia mau membangkitkan kembali ibuku yang sudah mati?”
“Baiklah, aku akan segera meminta bantuan kepada Konoha agar mau membantu mencari Orochimaru, karena Orochimaru itu ninja yang sangat berbahaya.”
Woy apa-apaan endingnya?! Enggak gitu juga kali, ngerusak momen lagi aja.

Yang benar itu seperti ini.
Kemudian Rafi menoleh ke belakang, ya ke arah petugas penjara. Lalu, dia berjalan sambil membawa tas yang berisi surat balasan dari Raipansyah.
“Bang Rai, simpan saja suratmu ini. Aku telah berjanji untuk bisa tersenyum, aku tak mau bersedih lagi saat membaca surat ini meskipun surat ini bukan balasan dari ibuku.”
Dan Rafi memberikan tas kepada Raipansyah, setelah itu Rafi terus berjalan tanpa menoleh lagi ke makam ibunya.
“Mau kemana kau?”
“Mau menjadi anak yang baik, meski ibu telah tiada, setidaknya aku ingin menjadi orang yang seperti ibu harapkan.”
Waktu terus berlalu hingga meninggalkan jejak langkah kaki mereka di pemakaman ini.
Dan sosok makhluk tak kasat mata yang berdiri di samping makam sang ibu, mulai memudarkan air matanya untuk tersenyum kembali.
“Akhirnya setelah sekian lama, rindu ini terobati, aku bisa melihat dia tersenyum lagi. Aku bisa pergi dengan damai.”
Makhluk tak kasat mata itu kemudian memudar dibarengi dengan senyum bak pelangi di wajahnya.













Share this :

Previous
Next Post »
15 Komentar
avatar

bro situ nulis cerita ini kok bisa?
hehe

Balas
avatar

weh keren baca cerita ini seperti terbawa ke aneka nuansa rasa, kadang dibuat tertawa lucu, sedih, kesel
bagus ceritamu
aku suka bacanya

Balas
avatar

pengen ngedumel, tapi campur aduk rasanya.

Balas
avatar

Makin sini gaya penulisannya makin oke aja euy..

Lanjutkan bikin cerpennya, kali aja bisa dapet voucher Umroh.

Balas
avatar

Mantap Niki nulis dan bikin cerpen lagi. Kaget loh saya baca tulisan Niki yang baru bahas ibu begini. Hahaha. Bisa bener juga kamu, Bang~

Hm, kenapa harus Orochimaru? Kabuto juga bisa edo tensei, kan? Lebih hebat malah karena sudah disempurnakan. :))

Balas
avatar

Tumben tulisannya beda dari biasanya. Wew Niki, gue suka sih ceritanya. Salamin Nik buat Pak Penjaga Penjara.

Balas
avatar

nice artikel, kunjungan dari softkini.blogspot.co.id

Balas
avatar

ah kenapa engga suka orangnya sekalian

Balas
avatar

oh iya ya, kenapa engga kepikiran ya? pinter kamu

Balas
avatar

yang nulis bukan ini Niki ini mah.

Balas


Fans Saya