Teganya Suamiku Menghamili Aku, Istrinya Sendiri


Seorang wanita berusia 23 tahun, berwajahkan cantik, memiliki harta berlimpah, kini akan dikaruniai seorang pendamping hidup. Ms Nanas, sebut saja nama wanita itu. Dia tersipu malu, merasa sedikit agak canggung kala harus duduk berdamping di samping calon suaminya. Ada kalanya wanita itu sedikit melirik orang yang akan jadi calon suaminya, lirikan yang mengundang degup detak jantung yang tak berirama.
Di rumah mewah ini, di kediaman wanita itu, akan diadakan resepsi pernikahan. Sesuatu impian yang didamba-dambakan oleh seorang wanita. Kini di hadapan seorang penghulu, akad nikah akan segera dimulai.
"Apa kedua mempelai sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap," ucap kompak Ms Nanas dengan calon suaminya itu, Mr Apel.
"Baiklah, saya nikahkan dan kawinkan engkau Mr Apel dengan Ms Nanas binti Mr Salak dengan...."
Disela-sela acara resepsi itu, Mr Apel yang akan menjadi suami dari Ms Nanas merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan mendapatkan harta yang melimpah. Seperti sinetron yang judulnya kayak orang curhat, semisal Teganya Suamiku Menceraikan Aku Hanya Demi Wanita Lain atau Teganya Maling Sandal, Sandalku Lagi-Lagi Hilang Ketika Pulang Jumatan atau Waktu Begitu Cepat Berlalu, Besok Sudah Hari Senin Saja, Aku Benci Hari Senin. Sinetron yang isinya satu keluarga engga pernah akur dan suka ribut mulu. Ada aja orang jahatnya, kalo engga suaminya yang jahat ya istrinya, anaknya, mertuanya, menantunya, hadeh.
Raut wajah bahagia tampak pada Mr Apel, impiannya dari kecil yang ingin menjadi orang kaya sebentar lagi akan terwujud.
Hmmm sebentar lagi hartamu akan menjadi milikku. Aku akan menggantikan namamu menjadi namaku di surat tanah dan perusahaan yang kamu miliki MS Nanas. Hahahaha, suara batin Mr Apel.
Mr Apel tersenyum sembari menoleh ke calon istrinya itu.
Betapa bodohnya kamu menerima pinanganku, terjerat dalam rayuanku, asal kamu tau sebenarnya aku sudah lama mengincar hartamu itu. Hahahaha.
Jleb!
Sebuah pedang menusuk punggung Mr Apel dari belakang.
"Apa-apaan ini?" tanya Mr Apel yang bersimbah darah di punggungnya.
Semua yang berada di rumah ini pun terkejut, baik itu Pak Penghulu maupun para saksi pernikahan. Mata mereka yang melihatnya hanya bisa melotot melihat Ms Nanas dari belakang menusukkan pedang ke Mr Apel.
"Hah, kamu kira aku tidak tau rencana busukmu! Aku dengar suara batinmu, Mr Apel," kata Ms Nanas.
Woy engga ada di cerita sinetron kayak gitu!
Anggap saja cerita tusuk-tusukkan pedangnya itu tidak ada. Anggap saja pernikahan kedua mempelai itu berlangsung lancar tanpa ada pertumpahan darah.
Waktu terus berlalu, kini malam harinya, kedua mempelai sudah berada di dalam kamar. Ms Nanas yang duduk di atas ranjang berdampingan dengan Mr Apel mencoba merayu Mr Apel.
"Mas, mau sampe berapa ronde?" tanya Ms Nanas dengan menggerayangi tangannya ke arah otong Mr Apel.
"Aduh, berapa ya?" jawab Mr Apel dengan perasaan gugup.
Keringat mulai keluar dari wajah Mr Apel, sebelumnya dia tak pernah merasakan ketegangan seperti ini. Di sisi lain, tangan Ms Apel semakin dekat dengan otong.
"100 ronde gimana? Masa kamu engga kuat?" Ms Nanas semakin menggoda.
"Aduh, gimana ya?"
"Kamu mau gaya apa, Mas?"
"Aduh, gaya apa ya? Aku tegang nih." Mr Apel sudah tegang, otongnya juga sudah terbangun dari tidur panjangnya.
Kini tangan Ms Nanas sudah memegang otong Mr Apel yang berdiri, dan tanpa ampun menebas batang si otong dengan pedang miliknya hingga memuncratkan darah.
"Wadawww otongkuuuu!"
"Rasakan itu, makanya jangan berani-beraninya lo ngambil harta gue!"
Woy nih cewek engga punya perasaan, seenaknya aja nebas batang orang! Lagian juga harusnya nih cewek engga tau kalo suaminya itu ngincer hartanya, kacau dah.
***
Skip aja adegan penebangan liar tadi, anggap aja engga ada.
Kini sepasang pengantin baru itu terbangun di pagi hari. Ms Nanas yang masih selimutan tak kuasa menahan air mata kala melihat dirinya telanjang di balik selimut. Ada penyesalan di dalam dirinya.
Masih di atas ranjang, Ms Nanas terdiam, pandangannya kosong. Tak berselang lama, Mr Apel terbangun dari tidurnya namun otongnya tertidur dari bangunnya. Melihat sang istri yang berwajah muram, membuat Mr Apel tertegun untuk bertanya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Apa yang kamu lakukan semalam denganku, Mas?!" tanya Ms Nanas dengan nada tinggi.
"Aku berbuat sama kamu semalam."
"Dasar! Suami bajingan!"
Tak terima dikatai bajingan, Mr Apel langsung melayangkan telapak tangannya ke pipi istrinya itu.
Plak!
Sebuah tamparan keras mengenai pipi seorang wanita.
"Mas, teganya kamu menghamili aku, istrimu sendiri!" ucap Ms Nanas yang jadi istri Mr Apel.
"Bodo yang penting aku sama kamu itu ena-ena!" seru Mr Apel.
***
Meski sudah berkeluarga, Mr Apel sebenarnya adalah seorang pengangguran. Dia lebih senang bersantai-santai di rumah sambil menyaksikan sinteron. Tiap kali Ms Nanas pulang dari kantornya dan melihat sang suami hanya bersantai-santai ria, membuat Ms Nanas merasa sedih, apakah kepala keluarga seperti ini? Apakah kepala keluarga hanya pasrah dan tak mau menafkahi anggota keluarganya. Ms Nanas mencoba beranikan diri untuk menegur suaminya itu.
"Mas, kamu kerja ya, masa aku mulu sih yang kerja."
"Diam kamu! Berisik tau!"
"Mas, aku ingin kamu lebih baik dari sekarang."
"Berisik! Kamu engga tau apa selama menonton tv, aku juga kerja. Kamu pikir nonton tv itu gampang?! Kadang aku harus ganti channel tv pake remot, kadang aku harus benerin posisi antena kalo tvnya renyek, kadang aku baper liat tayangan tv. Pikir pake otak!"
"Mas, tapi ...."
"Udahlah, kamu jangan atur-atur hidup aku, bikinin aku kopi sana!"
Sebagai istri yang baik, Ms Nanas lalu membuatkan kopi untuk suaminya itu.
***
Secangkir kopi sudah tersaji di atas meja, ya kopi hangat, dengan menyeruput kopi mungkin akan menenangkan amarah seseorang. Ms Nanas pun menunggu waktu sang suami untuk menyeruput kopi sebelum membicarakan masalah barusan.
Kopi hangat pun diseruput oleh sang suami. Selesai menyeruput kopi itu, barulah Ms Nanas memulai pembicaraannya.
"Mas, kamu kerja ya, kamu kan kepala keluarga."
"Kerja? Hah buat apa aku kerja, toh kamu kan udah kerja!"
"Iya, tapi sebagai kepala keluarga yang baik itu...."
"Aah tau apa kamu kepala keluarga yang baik!"
Ms Nanas pun tak bisa berkata apa-apa lagi, dia mulai mengeluarkan airmatanya.
"Kamu harusnya bersyukur jadi istri aku, jadi aku engga usah kerja!"
Lagi-lagi Ms Nanas hanya bisa menangis.
Amarah Mr Apel semakin tak terbendung, setiap waktu tanpa henti dia selalu marah. Dan itu tak sadar membuat Ms Nanas semakin menitikan airmatanya.
Saat malam, Mr Apel marah-marah.
"Hey lampu, lo kan udah gede, jadi bisa kan mati sendiri, jangan manja deh!"
Saat pagi hari.
"Woy matahari, ngapain lo pagi-pagi udah bersinar, gara-gara lo nih pandangan gue jadi silau! Bangunin orang lagi tidur aja!" Mr Apel marah kepada matahari karena cahayanya masuk ke kamar dan membuat silau pandangan Mr Apel.
Saat siang hari.
"Eh matahari, bisa engga sih lo, siang-siang gini engga usah panas-panas! Gara-gara lo nih gue jadi kepanasan!" Mr Apel kepanasan saat bertelanjang sambil berjemur di tengah lapangan.
Saat menjelang malam harinya.
"Woy matahari, ngapain lo tenggelem di lautan. Kayak bisa berenang aja lo di pantai! Nanti kalo tenggelem gue engga mau tau!" Mr Apel berdiri di tepi pantai.
Secara tidak sengaja hal itu membuat Ms Nanas menjadi sedih.
"Aduh, kenapa sama suami aku, dia jadi gila gitu sukanya marah-marah engga jelas."
***
Beberapa minggu kemudian, pasangan suami istri ini pergi ke dokter untuk memeriksa hasil kandungan yang dimiliki MS Nanas. Ada perasaan bahagia, kala dokter yang memberi kabar bahwa Ms Nanas akan segera memiliki anak.
Mr Apel dan MS Nanas yang duduk di hadapan Bu Dokter tak kuasa menahan kebahagiaan itu. Ya memang seperti dikala suami dan istri akan dianugerahkan seorang anak.
"Selamat ya, atas kehamilannya," ucap bu dokter.
"Apa? hamil, Dok?" senyum sumringah mewarnai wajah Mr Apel.
"Iya, hamil."
"Padahal kan saya lelaki, Dok?"
"Istrinya yang hamil, bukan Bapak."
"Jadi siapa orang yang menghamili kamu?!" Mr Apel langsung berdiri dari kursi, dia tak kuasa menahan amarah saat tau istrinya hamil.
"Mas, kan kamu yang sudah menghamili aku."
"Bohong!"
Ternyata Mr Apel tak mampu lagi membendung amarahnya saat tau istrinya hamil.
***
Menjadi protagonist dalam sebuah sinteron keluarga sungguh tidak mengenakkan. Bayangkan saja, hidup dia selalu menderita dari awal hingga mendekati akhir cerita. Ketika dia bahagia, itu hanya di akhir saja, sesudah itu sinetron selesai. Berbeda dengan tokoh antagonis yang selalu bersenang-senang dari awal cerita hingga mendekati akhir, dan ketika akhir cerita hidupnya sengsara, sesudah itu sinetron pun selesai.
Itu pun dialami juga oleh Ms Nanas. Ms Nanas yang kini tengah mengandung seorang anak diusir oleh suaminya sendiri, lantaran si suami tak melakukan hal itu dengan istrinya. Namun itu hanya akal-akalan saja, ternyata tokoh antagonis itu selalu cerdas dan banyak akal.
"Pergi kamu dari sini!" bentak Mr Apel di depan pintu.
Seperti pada umumnya, tokoh protagonist hanya bisa pasrah dan selalu pasrah. Itu pulalah yang dilakukan Ms Nanas.
"Ya, aku pergi, Mas."
Ms Nanas pun pergi tanpa melakukan pembelaan. Namun tak lupa dia membawa mobil, surat-surat berharga, emas serta buku tabungan untuk bertahan hidup.
"Woy, perginya engga usah bawa harta segala. Jalan aja sana!"
Lagi-lagi Ms Nanas menuruti permintaan suaminya itu dan hanya pasrah, dia pun pergi dengan berjalan kaki.
"Iya, Mas, aku akan jalan."
***
Kasihan Ms Nanas hidupnya kini sebatang kara, dia tak punya sanak saudara yang membantu hidupnya. Terlebih lagi suaminya sendiri yang mengusir dia. Hari berganti malam, malam ini hujan turun dengan derasnya. Sementara Ms Nanas belum menemukan tempat tinggal yang cocok untuk ditempati. Dia hanya duduk dan pasrah di halte bus sambil menderaikan airmata.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ms Nanas bertanya pada diri sendiri, dia tak tau apalagi yang harus dia lakukan. Dia hanya pasrah.
Sementara di kediaman suaminya, Mr Apel sedang berpesta-pesta dengan para wanita. Kerjaan dia sebagai tokoh antagonis hanyalah untuk bersenang-senang.
***
Entah ini buah kesabaran atau keberuntungan, Ms Nanas akhirnya menemukan sebuah kontrakan kosong. Tak hanya itu pemilik kontrakan kosong merupakan orang yang baik hati. Dia bernama Ms Stobery, seorang janda muda yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Ms Stobery yang melihat keadaan muramnya wajah Ms Nanas mempersilahkan Ms Nanas untuk menempati kontrakan kosong miliknya.
Di tempat lain, Mr Apel baru saja berpesta di rumahnya kini berdiam diri di tengah jalan untuk menunggu mobil datang menabrak dirinya. Seperti sinetron pada umumnya, ada saja adegan seseorang yang tertabrak atau tersenggol mobil, begitupula di sini. Namun di sini tokohnya yang meminta untuk ditabrak.
Mr Apel yang sudah menunggu beberapa jam tampaknya muram, sampai saat ini belum ada satu pun mobil yang lewat jalan depan rumahnya. Pada akhirnya Mr Apel memutuskan untuk kembali ke rumah, dia berjalan dengan kepala tertunduk. Tak berselang lama, terdengar suara mobil melaju di jalan depan rumahnya. Hati Mr Apel pun merasa senang, dia menengok ke belakang, benar saja. Itu adalah sebuah mobil yang sedang melaju.
Mr Apel tak membuang kesempatan ini, dia kembali ke jalan dan berdiri di tengah. Saat mobil mulai mendekatinya, Mr Apel pun berteriak.
"Tidaaaak!"
***
Mr Apel pun dirawat di sebuah rumah sakit. Tak luput ada seseorang yang mengabari kabar buruk ini kepada istrinya Mr Apel.
"Apa?!" Ms Nanas terkejut mendengar suaminya dirawat.
"Iya, Bu, Ibu cepetan deh ke rumah sakit."
Ms Nanas yang diberitahu oleh seseorang melalui telepon, langsung saja pergi ke rumah sakit padahal dia tidak diberitahu di rumah sakit mana suaminya dirawat, itulah kelebihan sinetron, tanpa memberitahu dia sudah tau duluan.
Sesampainya di rumah sakit, Ms Nanas langsung bertemu dengan Pak Dokter yang merawat suaminya tersebut. Seperti sinetron pada umumnya, kalimat ampuh nan pasrah selalu dilontarkan dari mulut Pak Dokter yang merawat pasien antagonis.
"Maaf, Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
Ms Nanas pun merasa sedih karena suaminya sudah tiada. Dan dalam hatinya berkata.
Mampus lo mokad, siapa suruh lo ngusir gue terus ngincer harta gue. Muehehehe.
Akhirnya Ms Nanas kembali ke rumahnya dengan perasaan berbunga-bunga.

Share this :

Previous
Next Post »
12 Komentar
avatar

wadaw.. otongku.... :D

next topik.
Ms Stobery, seorang janda muda.
lanjutkan kisahnya bang.pasti seru.. saya tunggu..wkwkwk

Balas
avatar

Hahahaha ini sih cerita bener-bener lebih bagusss dari sinetron apapun ahhhh bagus bangetttt daripada sinetron kebanyakan. Layar tancepkan! Bioskopkan! Segera! Secepatnya! Dilan mah kalahhh sama cerita begini nihhh. *lagi demo*

Balas
avatar

Terinspirasi dari sinetron2 yg ceritanya sudah bisa ditebak ini. Tp diimprovisasi sesuai kebutuhan penulis 😂😂😂

Balas
avatar

Bakatnya ada dua nih menulis dan seperti cak lontong he....he...

Balas
avatar

HAHAHAHAHA..
Gue penasaran ini cerita inspirasinya dari mana? Dan akan lebih greget kalau Mr Apel selain pengangguran, bajingan, tukang ngopi juga suka main ML. Jagoannya Zilong lagi

Balas
avatar

Engga da lagi om kisahnya
Cuma segini doang

Balas
avatar

Hahahhaa... ceritanya bikin penasaran juga nih! Tapi kreatif juga,... jadi pengin ketawa sendiri

Balas
avatar

ibu nanas dan pak apel
namanya keren sebagai simbol cerita biar terus diingat oleh pembacanya

Balas