Di Tempat Sepi


Aku hanya diam sendiri di depan rumahku, kadang kusempatkan untuk melihat bintang yang bertaburan di langit. Tanpa kata yang keluar dari mulutku, aku teringat bahwa malam ini adalah malam dimana mantan kekasihku menikah. Aku pun turut diundang, lumayan bisa dapat makanan gratis. Jujur saja, masih ada beban terasa untuk melangkah ke pesta pernikahan mantanku, masih ada bekas-bekas cinta yang belum sempat aku pulihkan.

Sendiri, aku melangkah dari rumah dengan perasaan was-was. Langkah demi langkah aku lewati. Sungguh malam ini terasa sepi tak ada pejalan kaki yang kutemui sedari rumah tadi, sepertinya aku berada di dunia yang berbeda, jauh dari keramaian. Tak kusangka, kini aku sampai di sebuah taman. Taman ini merupakan jalur satu-satunya yang harus aku lewati sebelum sampai ditempat tujuan. Di taman ini juga aku melihat sebuah kenangan terakhir bersama dia. Sedih dah kalau diceritain mah. Hiks.

Aku berdiri di bawah lampu jalan sembari mengantungi kedua tanganku di saku celana, ya kali aja ada selembar dua lembar uang seratus ribuan, namun itu hanyalah harapan semuku. Tiba-tiba arah mata ini tertuju pada sebuah kursi, kursi yang menjadi saksi akhir kisah hubunganku dengannya. Dengan suasana malam nan dingin dan sepi, aku sempatkan berjalan mendekat sejenak di kursi taman. Sebulan yang lalu adalah akhir kisah kita berdua.


Kini kepalaku mendengak ke atas, kemudian aku menghirup nafas dan menghembuskannya. Aku kembali teringat akan kisah itu.

Sore itu dihari minggu, aku duduk bersama dia di kursi taman ini. Dia lebih cantik kelihatannya dari yang sudah-sudah, entah kenapa perasaanku bilang saat harus kehilangan seorang yang dicintai, dia akan terlihat lebih cantik.
“Bagaimana sudah dapat kerjaan?” tanya dia padaku, saat masih menjadi kekasihku.
“Sudah tiga puluh lamaran yang aku taruh, dua puluh lima diantaranya tidak ada panggilan, sisanya aku gagal tes dan hari ini sudah lima tahun aku menganggur.”
“Kamu tau apa yang terjadi semalam di rumahku?”
“Kenapa?”
“Semalam anak dari teman bisnis ayah melamarku,” ucap dia dengan wajah tertunduk, mungkin dia kecewa lantaran aku gagal.
“Terus?” tanyaku yang tak berharap lagi.
“Kamu ingat janji ayah padamu dulu?”
“Iya, jika sampai hari ini belum dapat kerjaan, aku harus melepaskanmu,” ucap aku sambil menundukkan kepala ini.
“Maafkan aku, karena sebulan dari hari ini aku akan menikah dengannya. Aku….”
“Ini semua salahku, gagal memperjuangkanmu.”

Ada airmata yang menetes dari mataku ketika mengenang kembali kisah sebulan lalu, dan kini nasibku tak berubah seperti sebulan lalu. Seusai melihat kenangan terakhir dengan dia, aku kembali berjalan menuju tempat pernikahan dia. Suasana malam makin sepi, dan aku meninggalkan taman itu.

Sesampainya di tempat pernikahan, aku melihat wajah-wajah dari tamu undangan maupun dari kedua mempelai. Wajah-wajah bahagia dikerumunan berbanding terbalik dengan yang aku rasakan, walaupun ramai aku tetap merasa sepi, kesepian ini seperti berada di dunia berbeda. Dengan wajah yang mencoba untuk tersenyum, aku berjalan menuju kursi pelaminan untuk memberikan selamat kepada dia.

Dengan langkah yang santai, kini aku sudah sampai tepat di depan kedua mempelai. Aku berdiri memandangi dia, wajah lesu kini tampak aku rasakan begitu juga hatiku, ada air mata yang ingin keluar namun sekuat-kuatnya coba aku tahan. Lalu, aku tersenyum kepadanya. Tak ada senyuman balasan dari dia, yang terlihat dia kini berwajah murung melihat aku berdiri di depannya.
“Selamat ya,” ucap aku ini yang sudah kehabisan kata-kata lagi.

Dia lalu tersenyum melihat kepadaku, perlahan-lahan dia berjalan menuju kepadaku.
Aku masih sayang kamu, ucap aku dalam hati.

Dia masih berjalan dan kini sudah tepat berdiri di depanku, satu langkah lagi mungkin ada pelukan terakhir atau ciuman terakhir. Kalau kayak gitu, aku bisa digaplok sama suaminya nih.
“Sudah jangan dekat-dekat, aku engga enak sama yang lain, kamu kan…,” ujar aku dengan perasaan gugup.

Bagaimana bisa seorang perempuan yang sudah menikah dengan orang lain kini berhadapan dengan mantannya yang tak bisa apa-apa. Aku bergemetar di hadapannya, mungkin hanya tinggal beberapa centi lagi, kedua bibir ini akan saling beradu. Dan dia berjalan satu langkah lagi, tiba-tiba dia menembus tubuhku. Aku terkejut dengan apa yang terjadi.
“Apakah aku?” tanyaku sambil melihat kedua tangannya yang mulai memudar.

Perlahan-lahan tanganku mulai memudar seperti robekan selembar kertas yang tertiup angin, lalu tubuhnya pun mengikutinya, dan apa yang kulihat perlahan-lahan mulai redup… redup… lalu warna berubah menjadi hitam, aku tak sadar kalau aku sudah tiada. Seusai menghilang dari tempat pernikahan dia, aku kini duduk di suatu tempat. Tempat yang seluruhnya berwarna putih, entah dimana? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada satu pun seseorang yang berada di sini juga, hanya aku di tempat sepi ini.
           


Share this :

Previous
Next Post »
12 Komentar
avatar

Sedih juga sih, ditinggal nikah karna nganggur, tapi kenapa harus berada di tempat sepi? Apakah teman dan keluargamu tak bisa menjadi pengganti?

Allahumaghfirlahu warhamhu, wa afihi, wafuanhu, aamiin

Balas
avatar

Ini ceritanya mimpi atau gimana? Tapi bodo amat. Gue anggap ini curhatan Niki.

MAMPUS! RASAIN LO DITINGGAL NIKAH SAMA MANTAN! MAKANYA KERJA! CARI UANG YANG BANYAK BIAR BISA PERGI KE THAILAND (kok nggak nyambung?)!

By the way, napas, Nik, bukan nafas. Pernapasan, bernapas, napas. Kutunggu cerpen berikutnya!

Balas
avatar

Nyesel banget pas mau beradu, malah ngilang ..
Coba ditebelin pake pensil 2 B sapa tau bisa jadi jelas lagi

Balas
avatar

Wah sedih kali tu cowok, ditinggal nikah karena belum ada kerjaan.

Dari awal ceritanya ak kira akan melenceng dari alurnya,

aku sempat kira tu, sudah sampai di tempat perkawinan mantannya, bakal di sembur pakai api, rupanya tidak.
Sekarang otaknya niki mulai lurus haha,

Ngenes kali ceritamu kisanak. Haha

Balas
avatar

Kenapa nggak gantung diri aja ditiang lampu jalanan ? Kenapa harus menggantungkan tangan disaku celana, itu celana dalam yah ?

Balas
avatar

Njir kebayang apes banget idupnya tuh orang, udah diputusin malah mati di pernikahannya mantan lagi :v

Balas
avatar

cerpennya berikutnya itu kayak gimana ya?

Balas
avatar

jadi selama ini otak saya bengkok ya, mas

Balas


Fans Saya