Serial Coklat : Cinta Mati


Akhir-akhir ini Coklat bersikap aneh di sekolahnya. Meski begitu, teman sekelasnya tak berani menegur dia saat harus berbuat seperti itu. Bahkan, guru yang mengajarnya mau tak mau menuruti kehendak si Coklat. Setiap kali Coklat tunjuk tangan, seluruh bangku dan meja yang berada di dalam kelas terdiam menyetujuinya melakukan itu.
“Pak!” Coklat berteriak sambil mengangkat tangan kanannya.
“Iya, Coklat, ada apa?”
“Saya ijin ke wc, Pak!”
“Hah, kamu mau ke wc?”
“Iya, Pak. Dah kebelet nih!”
“Aduh, Nak, enggak muat kalo kamu masuk ke wc! Jangan!”
“Saya kebelet pengen buang air, bukan masuk ke wc, Pak!”
“Aduh, Nak, musim panas kayak gini kamu malah buangin air.”
“Bukan buang air beneran, Pak, tapi mau berak!”

Coklat seketika berlari dari tempat duduknya menuju toilet sekolah.

Akibat sering melakukan itu ketika kebelet ingin buang air, baik buang air besar mau pun kecil  atau pun sedang, membuat wc yang menerima sisa-sisa bahan pembuangan darinya merasa kenyang. Tak pernah terbayangkan di pikiran wc ada seseorang yang menjadi langganannya. Hal itu membuat hidup si wc menjadi berarti. Si wc selalu senang saat Coklat datang kembali walau hanya membuang ampas-ampas kehidupannya.

***

Hingga pada suatu malam, Coklat yang baru saja lembur dari sekolahnya karena tertinggal pelajaran tak sengaja menemui wc jongkok yang menjadi tempatnya bernaung, di depan kelas.
“Hy, sedang apa kamu di sini malam-malam?” tanya si wc duduk tersebut dari depan pintu kelas.

Coklat yang melihat wc yang menyapanya, tidak terkejut sama sekali.
“Anu, aku baru saja belajar tambahan.”
“Memang pas SD dulu, kamu enggak pernah diajarin tambah-tambahan kayak satu tambah satu, gitu?”
“Bukan itu maksudnya, pelajaran tambahan, bukan tambahan penjumlahan.”
“Terus kamu mau pulang?”
“Iya.”

Kini keduanya berjalan menyelusuri lorong-lorong sekolah. Ada perasaan berbunga-bunga dari si wc duduk tersebut saat dia berjalan di samping Coklat.
“Anu ...,” ucap si wc malu-malu, pipinya merah merona
“Kenapa?” tanya Coklat dengan suara lembutnya.
“Apakah kamu lapar?” tanya si wc.
“Hmmm ... tidak.”
“Coba katakan sekali lagi. Apakah kamu lapar?”
“Tidak.”
“Coba katakan lebih keras lagi. Apakah kamu lapar?”
“Tidak.”
“Lebih keras lagi.”
“Keraaaaas!”

Si wc bingung, harus darimana untuk memulai pembicaraan mengenai perasaannya kepada Coklat.
“Kamu tau engga? Detik ini adalah waktu paling bahagia yang aku rasakan saat bisa duduk di  sampingmu, biasanya kamu selalu dudukin aku. Aku lakukan itu untuk dapat perhatian dari kamu, aku engga tau bagaimana caranya mendapat perhatian kamu,” ucap si wc duduk menutupi wajahnya menahan air matanya yang mulai menetes.

Si wc duduk itu kemudian berlari meninggalkan Coklat yang masih bingung dengan ucapannya.
***

Di atap gedung sekolah, udara malam kian membuat tubuhnya kedinginan. Harapan si wc duduk untuk disusul oleh Coklat tak kunjung ada. Ada perasaan sedih bagi si wc duduk kala seseorang yang dicintainya tak pernah peduli. Berhembus angin di atap gedung, akal sehat si wc duduk pun perlahan hilang terbawa hembusannya.
“Lebih baik aku mati saja, jika dia tak peduli padaku.”

Tanpa pikir panjang si wc duduk melompat dari atas gedung.

Tiba-tiba ada tangan yang menggapai tangan si wc duduk. Wc duduk pun terdiam hening membisu dalam ketidakpastian. Dia berharap itu adalah Coklat, seseorang yang dicintainya.
“Jangan lakukan itu!” ucap seseorang yang belum diketahui siapa dirinya.

Si wc duduk mendengakkan kepala ke atas, melihat seseorang yang menolongnya.
“Kamu?” ucap wc duduk terdiam melihat seseorang yang dia kenalnya.
“Jangan pergi!” ucap seseorang itu menahan beban berat wc duduk yang hendak terjatuh dari ketinggian.
“Lepaskan aku! Hidupku sudah tak berarti bila seseorang yang aku cintai tak mencintaiku! Lepaskan aku sekarang juga, Wc jongkok!”

Dia adalah wc jongkok, seseorang yang berusaha menyelamatkan si wc duduk.
“Tak ada gunanya kamu akhiri hidup, berputus asa dengan harapan yang tak kamu dapatkan! Lihatlah aku! Aku ke sini hanya untuk menyelamatkanmu, karena aku cinta padamu!” lantang si wc jongkok.
Si wc duduk hanya terdiam.
“Selama ini aku bertahan dalam kepahitan, melihat harapanku yang hampir punah. Namun, aku selalu menunggu satu kesempatan untuk bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Aku tak peduli jika orang-orang lebih suka memakaimu daripada aku, aku tak peduli jika aku mendapatkan lebih sedikit sisa-sisa pembuangan daripada kamu. Aku hanya peduli pada kamu, aku senang melihat kamu bahagia mendapatkan sisa-sisa pembuangan dan tersenyum setelah orang menyiramnya.”

Sekuat tenaga, si wc jongkok menarik lengan si wc duduk. Perlahan-lahan wc duduk mulai terangkat. Namun, saat sejengkal lagi menyelamatkan wc duduk, si wc jongkok terpeleset hingga keduanya pun tejatuh dari atap gedung setinggi 30 meter.

Saat keduanya jatuh di udara, mereka saling memandangi satu sama lain, lalu tersenyum kemudian saling berpelukan sebelum akhirnya mereka berdua menimpa jalan.
“Maafkan aku, wc jongkok.”
“Tak perlu minta maaf, aku bahagia melihat kamu tersenyum di akhir hayatmu.”

Brught!

Seketika keduanya hancur berkeping-keping.

Setelah itu hujan pun turun.

Coklat yang mendengar suara pecahan seketika langsung berlari ke tempat kejadian. Alangkah terkejutnya dia melihat dua buah wc hancur lebur. Di bawah air yang turun dari langit, Coklat merasa kehilangan. Ada kesedihan mendalam dari dirinya.
“Kenapa ini harus terjadi? Toilet buat siswa cowok cuma ada dua wc, dan sekarang kedua wc-nya hancur. Nanti kalo gue mau boker lagi gimanaaaaa?!”

.





Share this :

Previous
Next Post »
19 Komentar
avatar

Coklat mengeluarkan cokelat di toilet berwarna cokelat.

Balas
avatar

Apa hubungannya cokelat sama wc duduk dan wc jongkok?!

Gue pikir mau nyisipin unsur rasis terhadap wc. Ternyata dua-duanya malah hancur lebur. Sekarang wc cowok nggak ada wc lagi. Munngkinkah ini asal-usul pepatah "Guru kencing berdiri murid kencing berlari?"

Balas
avatar

Hehehe... malah si coklat tangisi wc-nya gak ada. Duh cokelat emang polos nih anaknya. Dasar, harusnya wc duduk lebih berani dong, ngajakin ngedate di kamar kek, atau jalanin aja dulu entar baru sayang.

Balas
avatar

Hahahah, duh percakapan yg mengharu biru sebelum semuanya hancur...

Balas
avatar

Boleh nggak gua bunuh aja si WC, bikin gua kesal aja ckck, bapak Guru nya jadi stand up komedian aja, lucu sih hehehe

Balas
avatar

Wuakakakakaakakaaaa 🤣🤣
Bayangin adegan kejar-kejaran wc duduk dan cokelat .... lucuuuuu bangeet !

Ngenesnya,
Mereka berdua berakhir berantakan 😓
Berceceran dooong yaaa ..

Balas
avatar

Toilet disekolahku cuma satu, dia jomblo

Balas
avatar

seketika juga saya kepengen B**ak ketika baca awal postingan di mari wkwkwkwkw

Balas
avatar

Dibayang bayang tetep gak kebayang wc bisa jalan bisa bunuh diri njir ngeri bang wkwkwk :v

Balas
avatar

Wukakakakaaka 😂

AwaaaZ .. bolak balik terus ke toilet tiap baca artikel mister Niki ini ..

Balas
avatar

pernah jatuh cinta sama wc y?

Balas
avatar

saya engg ada bakat buat jadi komika

Balas
avatar

jangan lupa beli obat mulesnya

Balas