Sebuah Kisah Sedih Bukan Cerita Azab : Aku Yang Tak Pernah Diperhatikan


27 Agustus, setiap tanggal itu orang-orang yang bersamaku di dalam rumah ini selalu merayakan ulangtahun Raka. Raka adalah anak pertama dari Bapak Indra dan Ibu Site. Selalu ada senyuman dan gelak tawa saat ketiganya merayakan hari spesia itu. Jujur, aku iri melihat keadaan itu. Berbeda denganku, mereka tak sekalipun merayakan ulangtahunku. Meskipun aku juga berada di rumah ini, seakan-akan keberadaanku tak pernah mereka anggap.

Raka memang pintar, aku tahu prestasinya di sekolah. Bahkan kepintarannya jauh dariku. Setiap pembagian rapot, Raka selalu menjadi peringkat pertama mulai dari SD sampai lulus SMA. Dengan prestasinya itu, Raka selalu mendapatkan sebuah hadiah dari mereka. Berbeda denganku, aku tak pernah sekalipun mencicipi bagaimana rasanya sekolah. Aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan di dalam kelas. Aku tak pernah tahu. Aku heran mengapa aku dibedakan dengan Raka. Aku tahu, keberadaan Raka memang lebih dulu dariku di sini, tapi mengapa keberadaanku seakan hilang dari mata mereka.

Aku melihat jam dinding yang berada di depanku. Jarumnya terus berputar, memindahkan waktu yang dulu hingga seperti sekarang. Disaat semuanya berubah, aku masih seperti ini, tak ada yang spesial dariku, tak ada yang berubah dariku. Mulai sejak berada di rumah ini sampai saat ini, aku masih tetap sama.

Hingga pada suatu hari, Raka mulai melepas masa lajangnya. Dia menikahi seorang wanita cantik. Tak heran jika pasangannya cantik, Raka pun menurutku seorang lelaki yang hampir sempurna. Dia pandai, tampan, dan selalu membuat mereka bangga dengan kehadirannya. Jujur aku berat untuk menyebutkan kelebihan yang dia miliki, tapi ya memang begitulah adanya. Aku tahu wanita yang dia nikahi itu cantik, karena wanita itu pernah dibawanya datang ke rumah. Saat wanita itu datang ke rumah, dia melihatku, lalu tersenyum padaku. Aku yang sudah lama tak menerima sebuah senyuman dari seseorang, merasa senang. Itu artinya, keberadaanku memang ada di tempat ini. Tapi kenapa harus orang lain? Kenapa bukan orang yang sudah lama tinggal di rumah ini?

Aku berharap di hari pernikahannya, aku bisa turut hadir menyaksikan Raka bersama mereka. Tapi, lagi-lagi aku disingkirkan. Aku hanya berdiam diri di rumah, seorang diri. Melihat jam yang terus berputar.

Setelah Raka menikah, dia tak tinggal di rumah ini, dia tinggal bersama istrinya itu. Aku senang, aku berharap aku juga diperhatikan sama dengan Raka sewaktu masih ada di sini oleh mereka. Namun apa yang terjadi, mereka lagi-lagi tak menganggapku ada di sini. Aku seperti patung yang keadaannya hanya diam. Dan ternyata benar, aku memang patung. Mereka menjualku ke orang lain dengan harga mahal, rupanya aku sudah menjadi barang antik. Selama ini aku tak sadar, aku pikir aku manusia, aku pikir aku ini adalah adiknya si Raka. Pantas saja aku tak pernah disekolahkan oleh mereka. Lagi pula mana ada patung yang ikut belajar di dalam kelas. Pantas saja aku tak hadir di acara pernikahannya Raka, mereka bakalan repot jika membawaku ke tempat pernikahannya. Pantas saja, aku tak pernah merayakan ulangtahun, mana ada patung yang bisa tiup lilin sendiri. Kalau ada, orang-orang di rumah ini bakal pingsan. Hadeh.
           


3 Responses to "Sebuah Kisah Sedih Bukan Cerita Azab : Aku Yang Tak Pernah Diperhatikan"

  1. Harus belajar sama patung merlion yang bisa menyemburkan air

    ReplyDelete
  2. Kasian amat sih ini ceritanya, hahhaa

    Niki kok masih sinting yah

    ReplyDelete